"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 September 2019

JAMAAH THORIQOH SYADZILIYAH WAL QODIRIYAH BEKASI MENGHADIRI HAUL KE-50 HADLRATUSSYEIKH MUSTAQIM BIN HUSAIN PONDOK PETA TULUNGAGUNG

Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah Titik Cikarang Kota Bekasi/Foto by. Abdus Saleh Radai
Hari ini Sabtu, 31/8/2019 bersamaan dengan Peringatan Tahun Baru IslAM 1 Muharram 1441 Hijriyah. adalah diselenggarakannya Acara Haul Hadlratussyeikh Mustqim Bin Husain, Tulungagung, Jawa Timur. Acara Haul Mbah Taqim (beliau biasa dipanggil) dihadiri oleh para muridnya yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan manca negara, seperti Jerman, Belanda, Macau, Jepang, Korea dan lain sebagainya.

Rutinan dan Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodoriyah
Perjalanan Acara Haul Hadlratussyeikh Mustqim Bin Husain tahun ini diawali dengan Rutinan Malam Jum'at yaitu Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadzliyah wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungagung, Titik Cikarang Kota Bekasi Jawa Barat. Khususiyah merupakan amaliah pembacaan aurad Syadziliyah wa Qodiriyah yang di baca secara bersama-sama pada malam Jum'at dan malam Selasa untuk Titik Cikarang Kota, dan di pimpin oleh Imam Khususiyah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriayah Pondok PETA Tulungagung. Peserta Rutinan Khususiyah adalah Jemaah Thoriqoh yang telah di Bai'at, baik Bai'at Thoriqoh Syadziliyah atau pun Bai'at Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Bai'at hanya bisa dilakukan oleh Mursyid Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungagung, yaitu Romo KH. Charir Sholahuddin Al Ayyubi dari Romo KH. Abdul Jalil Mustaqim (atau Romo KH. Arief Mustaqim) dari Romo KH. Mustiqim bin Husein, dan sterusnya sampai ke Sultanul Aulia Abi Hasan As-Syadzily.

Minggu, 01 September 2019

PERJALANAN MENUJU ACARA HAUL MBAH KH. CHASBULLAH MARZUQI KUTOANYAR

Rutinan Malam Jum'at Khususiyah Bersama KH. Agus Salim
Hari ini Sabtu, 31/8/2019 bersamaan dengan Peringatan Tahun Baru Islma 1 Muharram 1441 Hijriyah. adalah diselenggarakannya Acara Haul Mbah KH. Chasbullah Marzuqi, Kutoanyar, Tulungagung. Acara Haul Mbah Kakung (beliau biasa dipanggil) dihadiri oleh para muridnya yang tersebar di beberapa wilayah khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah,  dan Jawa Barat. 

Kegiatan Musyawarah Rutin Jum'at Pagi Bersam KH. Agus Salim
Perjalanan Acara Haul Mbah Kakung tahun ini diawali dengan Rutinan Malam Jum'at yaitu Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadzliyah wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungagung, Titik Cikarang Kota Bekasi Jawa Barat. Khususiyah merupakan amaliah pembacaan aurad Syadziliyah wa Qodiriyah yang di baca secara bersama-sama pada malam Jum'at dan malam Selasa untuk Titik Cikarang Kota, dan di pimpin oleh Imam Khususiyah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriayah. Peserta Rutinan Khususiyah adalah Jemaah Thoriqoh yang telah di Bai'at, baik Bai'at Thoriqoh Syadziliyah atau pun Bai'at Thoriqoh Qodiriyah. Bai'at hanya bisa dilakukan oleh Mursyid Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungagung, yaitu Romo KH. Charir Sholahuddin Al Ayyubi dari Romo KH. Abdul Jalil Mustaqim (atau Romo KH. Arief Mustaqim) dari Romo KH. Mustiqim bin Husein, dan sterusnya sampai ke Halratussyeikh Abi Hasan As-Syadzily.

Sabtu, 03 Agustus 2019

BIOGRAFI HADLRATUSSYEIKH KH. MUSTAQIM BIN HUSEIN

 Jamaah Thoriqoh Saydziliyah Wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungaung, Titik Cikarang Kota Bekasi Jawa Barat, Ziarah ke Makam Guru Mursyid Hadlratussyeikh KH. Mustaqim bin Husein, Kauman, Tulungagung, Jawa Timur
Hadlratussyeikh Mustaqim bin Husein adalah Mursyid Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah Pondok Pesulukan Thoriqot agung (PETA) Tulungagung Jawa Timur. Hadlratussyeikh Mustaqim bin Husein lahir di desa Nawangan, kecamatan Keras, kabupaten Kediri, pada tahun 1901 M. Ayah beliau bernama Husain bin Abdul Djalil, yang merupakan keturunan ke 18 dari Mbah Panjalu atau Hariang Kencana atau Sayyid Ali Bin Muhammad bin Umar (Mbah Panjalu), Ciamis, Jawa Barat. 

Ketika masih berusia 12-13 tahun, Hadlratussyeikh Mustaqim bin Husein mengabdi kepada Kiai Zarkasyi di dusun Tulungagung. Beliau mengabdi dan belajar membaca Al-Quran serta ilmu agama kepada Kiai Zarkasyi. Pada usia tersebut, Hadlratussyeikh Mustaqim bin Husein dikaruniai oleh Allah hati yang dapat berdzikir Allah, Allah, Allah …… tanpa berhenti.

Dari kekuatan dzikir yang demikian tadi, Hadlratussyeikh Mustaqim bin Husein juga dikaruniai oleh Allah ilmu sirri atau ilmu mukasyafah . Beliau bisa mengetahui ilmu ghaib, alam barzakh dan alam jin, serta keinginan-keinginan yang terbersit di hati orang lain. Pada saat itu, Allah selalu menjaga beliau dari sifat-sifat madzmumah (sifat yang tercela).

Rabu, 24 Juli 2019

KH. MAHFUDZ SYAFI'I GURU AGUNG PEMBAWA THORIQOH PONDOK PETA TULUNGAGUNG

I. KELAHIRAN

Hadlratussyekh Mahfudz Syafi'i Pendiri Ponpes Al-Istighotsah
Di Provinsi Jawa Timur, terdapat sebuah kabupaten yang bernama Jombang yang di kenal dengan kota santri, bahkan ada yang menyatakan bahwa kota Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah jawa karena hampir seluruh pendiri pondok pesantren di jawa pernah berguru di Jombang. Konon, Jombang berasal dari akronim bahasa jawa IJO yang berarti HIJAU dan ABANG yang berarti MERAH yang kemudian di satukan menjadi IJO-ABANG atau JOMBANG.

Jombang dulu adalah wilayah kerajaan Majapahit bagian barat, Jombang kemudian terpisah dari  Mojokerto di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromojoyo yang di tandai dengan tampilnya pejabat pertama mulai tahun 1910 M. sampai 1930 M., yaitu Raden Adipati Ario Suryo Adininigrat.

Pada tahun ketiga setelah inilah bersamaan peristiwa duka kyai besar Jombang yang kitabnya di gunakan seluruh santri indonesia  bahkan para mahasiswa termasuk mahasiswa luar negri, yaitu kyai Muhammad Ma’shum Bin ‘Ali penyusun kitab Ilmu Shorof  Al-Amtsilatut Tashrifiyyah wafat, yakni tepatnya pada hari Kamis, 9 Maret di tahun yang sama 1933 M. Atau 12 Dzul Qo’dah 1351 H. Lahirlah seorang bayi laki-laki putra pertama dari pasangan suami istri Bapak URIP dan Ibu MUNFA’ATUN. (saat itu nama Urip berubah menjadi Syafi’i karena kebiasaan orang dulu yang merubah namanya setelah pulang haji).