"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Agustus 2010

Kisah Yang Terpenggal


Kurentangkan tangan menengadah lepas keangkasa
Berucap pelan sembari meringis sedih
Melihat bayangan putih melintasi awan putih
Melambai dengan maksud yang tak terwujud

Dia tersenyum dengan air mata mengalir
Sapaku keluh seaakan tak terdengar
Tatap penuh iba hiasi wajahnya
Kenapa pandangi aku dengan wajah sayu
Wajahmu pucat tanpa darah
Meski anggun tetap hiasi setiap auramu

Kini berlahan-lahan kumelangkah
Setapak demi setapak membekas tak tertiup angin
Dedaunan memutih
Pohon-pohon, pegunungan
Laut, pasir semuanya berwarna putih
Terkesiap denyut nadi
Terperangah tatkala kau terlihat di antara celah-celah cahaya bulan dan bintang

Perlahan ku mengerti dan merasa
Kain kafan telah hiasi gaun-gaunmu
Putih tanpa darah telah hiasi wajahmu
Nyanyian kematian mengiringimu
Kini kutersungkur, bertopang pada dua lututku
Badanku lemas tak berdaya

Sulit terima kenyataan
Inikah arti ikrar kita….?
Firasat telah nyata
Ketika kau berucap” hanya kematian yang dapat memisahkan kita “
Kutermangu meratap lesu
Kini ikrar itu larut bersamamu
Membekas dalam ingatan panjangku

Kumenjerit histeris dalam kalbu tak tertampung
Meluap gundah bersama asmamu ya Allah
Bulu kudukku merinding
Disaat lafadz “La…ilaha illallah” menggema
Mengiringi keranda menuju alam abadimu
Dengan suara tertahan aku mengikuti “La…ilaha illallah”

Aku menjerit keras memanggil namamu….lajna…..!
Aku kaget dan terbangun
Nafasku tersengal
Sekujur tubuhku bercucur keringat
Ternyata aku bermimpi ….
Aku bertanya….kenapa kau hadir lagi dalam ingatanku
Kenapa….
Apa karena aku berusaha melupakanmu

Sabdaku….
Belahan jiwaku
Ikhlaskanlah takdir kita
Bahagialah kau bersama Tuhan kita
Di setiap doaku kan selalu terselip nama indahmu …”Lajna Wahdiah”…
Damai bersamamu bahagia kan kurasa

As Maller
Pabuaran, 11-12-2002

Senin, 08 Februari 2010

Harapan Yang Terjal

Dari lereng bukit pabuaran melangkah setapak kaki…. Cari arah
Sembunyikan keresahaan dalam pencarian rimba
Dimana bunyi burung bersautan, binatang pecahkan kepiluan
Bangkitkan diri,alihkan sikap mengabdi
Abdikan diri dalam diri
Faham hanya dengan keyakinan diri, abdi dalam arti

Selimut hidup sebagai hiasan detak rasa
Bahagia nyata dalam hidup berujung dan berlimit
Biarlah dunia merambah dengan kebingaran
Ramaikan cipta sesat, rintih mengukir bekal diri

Nyanyian indah kehidupan, beragam nada dan irama
Sesuaikan impian bila sabda meresap dalam gelombang jiwa
Raga pun pada hakekatnya tiada makna
Serpihan jiwa pada ahkirnya hanya sebatas saksi
Sungguh…! Langkah selalu dini bila berhenti
Bunga-bunga kehidupanpun akan layu
Bila nurani hanya sebatas larut dalam sukma

Prisai diri selalu di bentengi dengan sikap mengeluh dan memohon
Ratapan jadi senjata ampuh
Jelma keilahian terukir dengan susah dan senang
Tiada tali pengikat satukan jiwa
Apa lagi jubah sebagai bungkus sukma

Betapa terjal jalan hidup
Rentang jarak dan waktu yang begitu nyata
Sulit merangkul inti diri
Biarlah bias-bias cipta menoleh mengintip jelma dzat

Munkinkah jiwa ini pergi mencari pijakan
Tinggal bersama roh-roh yang indah yang tenang dalam penantian
Tunggu giliran kapan jalan hidup berahkir
Sumringah bila takdir masih mengiasi teratai jalan
Menerpa kerikil, bebatuan, dan duri-duri kehidupan

Ingin sekali bercumbu ria, mesra bersama roh keilahian
Meratapi sedih, bersenda gurau, tidur bersama
Mengukir mimpi indah dalam lorong-lorong alamnya
Mengenal kehidupanya, berjalan bersama di taman impian
Ngobrol di serambi rumahnya, sambil minum teh yang di hasilkan dari kebunnya
Bertukar pikiran tentang nyata hidup masing-masing

Tuhan….!! Singgahlah dalam rumah jiwaku
Tinggallah satu atap bersamaku
Biarlah dunia mengerti jalanya sendiri
Intiku adalah kau
Kembalilah pada intimu
Kita melangkah bersama dalam wujud nyata keilahianmu
Sampai akhirnya aku dan kau mengerti
Bahwa….!!!
Kau dalam aku adalah….aku
Aku dalam kau adalah….kau

Ketinggian gunung, luasnya samudra menengarai menyapa dengan akrap
Tiada lagi batas, identitas pun melankah pergi diam-diam
Nama tidak lagi penting
Namamu bukan yang inti
Kini burung-burung terbang tanpa sayap
Ombak bergelombang tanpa terpaan angin
Padang pasir bergemuruh bersama beliung lenyapkan sakral
Bumi pancarkan cahaya indah, tenggelamkan matahari dan bulan
Api dan airpun bercumbu mesra

Biarlah keindahan ini kita nikmati dalam kebersamaan
Satukan kehendak dalam satu rimba
Melangkah bersama, walau jalan terjal
Kan kunikmati sejuknya jubah keilahianmu
Hingga pada saatnya, indera dan jiwaku lebur bersamamu
…….!!!


Abdus Saleh Maller
Villa Pabuaran Indah, 21 Juni 2002