"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"

Kamis, 14 Juli 2022

Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban Upaya Mewujudkan Masyarakat yang Religius, Sejahtera, dan Bermartabat

Dr. KH. Fuad Thohari, MA

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر\  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر\  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر\

الحمد لله الذي جعل أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ,  وجعل أعظم شعائره حج بيته الحرام بحرمه الأمين. أشهد أن لاإله إلاالله العزيز الرحيم وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعبن. أما بعد. فيا أيها الحاضرون, اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون. قال الله تعالى فى كتابه الكريم أعوذ با لله من الشيطان الرجيم:  إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر َ(1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر ُ

Pada hari Ahad, tanggal 10 Dzul Hijjah  1443/10 Juli 2022, kita kembali melaksanakan ibadah sholat Idul Adha dalam keadaan sehat wal ‘afiat, setelah diawali dengan  menjalankan ibadah puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah. Kita perlu mengevaluasi diri (muhasabah) secara jernih dan objektif, serta berupaya sungguh-sungguh, agar amal ibadah yang kita laksanakan mendapatkan ridla Allah SWT. Amin. 

Shalawat-salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan risalah, ajaran, dan pesan perdamaian sebagai rahmat bagi semesta alam..

Hadirin Jama'ah Sholat 'Id Yang Dimulyakan Allah 
Hari raya 'Idul Adha yang kita rayakan pagi ini, merupakan satu di antara dua hari raya  umat Islam, selain Idul Fitri. Kedua hari raya itu memiliki kesamaan makna, yaitu hari  kembalinya seseorang kepada semangat kesucian. 

Kalau 'Idul Fitri  seseorang bisa  kembali suci   setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh; 'Idul Adha akan membuka  peluang  penyucian jiwa, terutama bagi siapa saja   yang menyembelih hewan kurban, dan kurbannya diterima Allah swt.  Selain itu, Idul Adha juga bisa mensucikan siapa saja yang menunaikan ibadah Haji  dan hajinya mendapat predikat haji  mabrur. Karena  --seperti dijanjikan Rasulullah Muhammad saw, tiada balasan bagi Haji mabrur kecuali Surga. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَهَا جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ 

Hadirin Sidang Idul Adha Rahimakumullah
Kita patut bersyukur dan bergembira bahwa dari tahun ke tahun, umat Islam Indonesia banyak yang menyembelih hewan Kurban. Kita juga bersyukur dan merasa bangga, banyak umat Islam Indonesia yang diberikan kemampuan  (isthitha’ah)  untuk menunaikan ibadah haji. 

Hanya karena pandemi PMK, ibadah Kurban tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Begitu juga karena pandemi Covid-19 meskipun trendnya di seluruh dunia makin landai dan sudah dinyatakan end demi, nyatanya pemerintah Saudi membuka musim haji tahun 2022 ini, hanya separoh kuota haji saja yang mendapatkan visa haji dan hanya untuk jamaah haji usia 18 sd.65 tahun saja. Kebijakan pemerintah Saudi ini tentu harus disambut gembira dan puji  syukur kepada Allah swt. 

Hadirin Sidang Idul Adha Rahimakumullah
Rasa-rasanya aneh, di sebuah Negara yang katanya paling banyak mengirim kafilah haji, paling banyak umat Islamnya, fakta-fakta positif semacam ini ternyata belum mampu mengggeser negara kita Indonesia, sebagai salah satu negara terkorup di Asia. Kita prihatin, fakta-fakta positif semacam ini tidak menjadikan negara kita Indonesia selamat dari serbuan narkoba. Bahkan, sekarang ini negara Indonesia menjadi pasar  narkoba paling besar di dunia. Padahal, kondisi semacam ini, jelas-jelas akan mengancam generasi muda  terbaik kita,  yang kelak akan menjadi penerus bangsa.

Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi,  sekalipun bangsa Indonesia  sudah 73 tahun merdeka dan puluhan kali menyelenggarakan pemilu, selalu saja menjelang pemilu ada oknum yang sengaja membuat situasi menjadi hangat, hubungan antar anak bagsa menjadi terkotak-kotak, mengotori pesta demokrasi, yang semestinya pemilu itu bisa menjadi pesta rakyat yang menyenangkan.

Oleh sebab itu, ada baiknya apabila kita mau merenungkan kembali wawasan kita tentang ajaran ibadah haji dan ibadah kurban tahun  ini dalam perspektif dan makna yang lebih luas,  dikaitkan dengan kondisi bangsa kita  akhir-akhir ini.

Jama'ah Sholat 'Idul Adha Yang Dimulyakan Allah 
Semua calon jama’ah haji pasti ingin mendapatkan predikat haji mabrur. Sayangnya, tidak semua  jama’ah haji mengetahui, untuk mendapatkan predikat haji mabrur itu tidak mudah. 

Imam al-Nawawi, mengatakan, kemabruran ibadah haji,  salah satunya ditandai dengan adanya  perubahan perilaku jama’ah haji yang lebih positif dan lebih baik, antara sebelum berangkat manunaikan ibadah haji dengan setelah kepulangannya menunaikan ibadah haji. 

Kalau ada calon jama’ah haji,  sebelum berangkat haji sangat pelit, tidak pernah punya empati, dan tidak mau berbagi, tetapi setelah pulang menunaikan ibadah haji lalu menjadi orang yang dermawan, empatinya kepada faqir-miskin gampang tumbuh, orang ini telah mendapatkan tanda-tanda predikat haji mabrur. Begitu juga bagi pedagang, pejabat, hakim, dan yang lain-lain, apabila mereka mengalami perubahan perilaku yang lebih positif dan lebih baik, antara sebelum berangkat menunaikan ibadah haji dengan setelah kepulangannya menunaikan ibadah haji, semuanya ini bisa menjadi  pertanda,  mereka telah mendapatkan predikat haji mabrur. 

Hadirin Jama'ah Sholat 'Id Yang Dimulyakan Allah 
Manusia mengenal tradisi korban sudah sangat lama, setua  umur manusia di muka bumi ini. Sejarah kurban itu dimulai, sejak  Allah SWT  mewajibkan anak-anak Adam; Habil dan Qabil untuk berkurban ternak dan dan hasil pertanian.  Tradisi berkurban ini terus berlanjut dan belakangan jauh bergeser dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan sebagaimana dulu diperintahkan Allah swt.  

Pada masa Nabi Ibrahim as,  manusia seringkali menjadikan manusia  yang lain sebagai korban atau sesaji  kepada dewa-dewa yang mereka sembah, agar tidak murka dan menurunkan bencana. 

Di Meksiko, suku Aztek  menyerahkan jantung dan darah manusia  kepada dewa  matahari. Di Eropa Utara, orang Viking yang dulunya mendiami Skandinavia mengorbankan pemuka agama mereka kepada Odin, sang Dewa Perang. Di Mesir, gadis tercantik dipersembahkan kepada dewi sungai Nil. Sementara itu, di Kan’an Irak, bayi-bayi merah yang tidak berdosa dipersembahkan kepada dewa Ba’al. 

Hadirin Sidang Idul Adha Rahimakumullah
Nabi Ibrahim hidup  pada abad ke-18 SM., suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan  pemikiran manusia tentang korban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak, ada yang ingin tetap mempertahankan kurban berbentuk manusia. Sementara di pihak lain  ada yang beranggapan, manusia terlalu  mulia untuk dikurbankan kepada Dewa2 yang disembah. 

Ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim as tentang kurban ternyata  memberikan jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim as --dengan demikian-- bukan semakin melegalkan kurban berbentuk manusia, karena setelah pisau dihujamkan ke leher Isma’il as, Allah mengganti Isma’il as dengan seekor domba.  Kejadian  ini sekaligus memberikan satu isyarat  bahwa Allah begitu sayang kepada manusia, sehingga kurban berbentuk manusia tidak lagi diperkenankan.

Hadirin Jama'ah Sholat 'Id Yang Dimulyakan Allah 
Kita sepakat,  manusia mengenal tradisi  kurban sudah cukup lama, sejak Nabi Adam as dan terus berlanjut pada masa Nabi Ibrahim as. Yang penting untuk digarisbawahi,  apa sebenarnya makna simbolik dibalik ibadah kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim as? Mengapa Nabi Ibrahim as harus menyembelih  Ismail as, lalu Allah SWT menggantinya dengan domba gibas? 

Jika kita renungkan lebih dalam, kisah Nabi Ibrahim as dan keluarganya ternyata sarat dengan muatan pesan moral yang begitu dalam.

Pertama, Nabi Ibrahim  as., merupakan simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai  keridlaan  Allah, termasuk rela mengorbankan dirinya sendiri dalam kobaran lautan api yang disulut raja Namrudz. Setiap orang pasti mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang paling dicintainya, dan kelemahan Nabi Ibrahim as,  bisa jadi terletak pada puteranya Isma’il as yang sudah lama dirindukan. Kenyataannya, Ibrahim as lulus ketika diuji  Allah untuk mengorbankan putera kesayangannya, Isma’il as.

Kedua, Isma’il as adalah simbol bagi sesuatu  yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi untuk menggoyahkan iman; simbol bagi sesuatu yang dapat membuat manusia enggan  untuk menerima tanggung jawab; simbol  bagi sesuatu yang bisa mengajak manusia berpikir subjektif dan berpendirian egois. Ringkasnya, Ismail as adalah  simbol dari sesuatu  yang dapat menyesatkan manusia dari jalan ilahi.

Ketiga, Hajar adalah simbol dari gambaran seorang isteri yang sangat sabar dan sangat memahami kepergian suaminya (Ibrahim. AS), bertahun-tahun meninggalkannya tanpa bekal yang memadai untuk tugas agama, mengemban risalah ilahiah. Siti Hajar merupakan sosok ibu  yang ikhlas menerima keadaaan, dan sangat sayang kepada puteranya Isma’il as. Pada saat yang sama, Siti Hajar begitu tawakal dan meyakini do’a suaminya pada saat ditinggalkan Nabi Ibrahim as suaminya balik ke Palestina untuk menemui Sarah, isterinya selain membina kaumnya..

Hadirin Sidang Idul Adha Rahimakumullah
Marilah kita introspeksi, sudahkah kita memiliki keimanan, loyalitas, dan cinta-setia kepada Allah setangguh Nabi Ibrahim as dan keluarganya? Apakah kita sudah menunjukkan  pengorbanan yang optimal ke jalan yang diridlai Allah Swt?  

Nabi Ibrahim as telah mengorbankan Ismail, puteranya yang sangat dicintai. Sebagai simbol bagi sesuatu  yang amat kita cintai,  boleh jadi  ”Ismail-Isma’il” itu kini mengambil bentuk berupa kekayaan, kendaraan baru, rumah mewah, deposito, jabatan penting, dsb. Apakah kita sanggup mengorbankan semua “Isma’il-Isma’il” itu untuk meraih  ridla Allah? 

Pendek kata, jika kita sebagai suami, sanggupkah kita meniru ketangguhan iman  Nabi Ibrahim as,  rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah? Bukankah yang banyak terjadi, setelah manusia  itu kaya raya, kecenderungannya pelit dan tidak mau berkurban? Setelah manusia itu menduduki jabatan penting dan strategis, bukankah malah banyak yang sombong, lupa diri, dan hanya mementingkan diri sendiri, kroni dan  kelompoknya? Tidak ada lagi idealisme, tidak ada lagi yang tersisa untuk  warga, umat, agama, dan bahkan negaranya. Mereka lupa dengan sumpah jabatan yang dulu pernah diikrarkan ketika dilantik menjadi pejabat.

Begitu juga, jika kita memposisikan sebagai isteri, apakah  kita sanggup  meniru ketabahan dan ketaatan Siti Hajar, merelakan suami tercinta menjalankan perintah Allah dan menghargai  jiwa besar anaknya Isma’il as?  Ataukah justeru menjadi isteri yang sering tidak bersyukur dengan nafkah yang diberikan suami, gampang cemburut kalau gaji yang dibawa suami tidak sebarapa dan tidak banyak? Atau menjadi isteri yang banyak ngambek karena suami menjalankan tugas negara berbulan-bulan dan tidak bisa berkumpul bersama keluarga?

Begitu juga jika kita  sebagai anak, sudahkah kita memiliki  idealisme yang kokoh  seperti Nabi isma’il as,  yang merelakan jiwa raganya menjadi korban untuk tujuan yang sangat mulia? Ataukah menjadi anak yang suka menghalang-halangi niat baik bapaknya dalam melakukan ketaatan dan amal shaleh kepada Allah SWT? 

Aneh, sekarang ini banyak orang tua yang akan berbuat amal shaleh, dihalang-halangi atau bahkan dibatalkan anak-anaknya. Kasus banyaknya tanah waqaf yang diambil alih atau dijual ahli warisnya (anak), menjadi bukti, banyak anak-anak di zaman ini, tidak mewarisi karakter Nabi Isma’il as. Bahkan, ada seorang anak yang tega menggugat ibu/bapak kandungnya sendiri karena dianggap telah merugikan dirinya. Na’udzu billah...

Hadirin Jama'ah Sholat 'Id Yang Dimulyakan Allah
Dalam perspektif yang lebih luas dan dalam konteks keadaan kita sekarang ini: 

  1. Bagi para pejabat/aparatur negara dan para birokrat, ibadah kurban ini hendaknya dirmaknai sebagai keteladanan dalam berperilaku dan bersikap, semangat rela berkurban dalam mewujudkan perilaku jujur dan amanah dalam mengemban  tugas negara, selain kesediaan mengabdi dan memberikan palayan yang terbaik untuk rakyat..
  2. Bagi para penegak keadilan, ibadah kurban dapat  dimaknai sebagai kesediaan untuk memerangi jual beli kasus dan menyembelih budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kian menggurita hampir di semua lini kehidupan. Kita prihatin, di sebuah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, dengan jumlah jama’ah haji terbanyak di dunia, kenapa keadilan sulit ditegakkan. Sampai-sampai ada yang mengatakan, ”Keadilan dI Indonesia sulit ditegakkan. Sulitnya seperti mendirikan benang yang basah. Keadilan di Indonesia sulit dicari. Sulitnya seperti mencari jarum patah yang  jatuh dalam jerami”. Sungguh, kita merindukan penegak keadilan yang  jujur, adil, dan amanah.
  3. Bagi para elit politik, berkurban bisa berarti keseriusan dalam menghentikan pelbagai pertikaian dan konflik antar partai,  ras, suku, maupun agama. Jangan ajari rakyat ini dengan kasak kusuk, lobi dagang sapi, dan intrik-intrik politik yang tidak manusiawi. Jangan kau tunjukkan sikap dan perilaku yang memuakkan, menyebarkan berita hoax, fitnah, ujaran kebencian, dan cara-cara yang kotor dan  tidak sportif, demi mengejar ambisi politik sesaat yang bisa mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara..
  4. Bagi para anggota Dewan  dan pemimpin Partai yang terhormat, berkurban juga dapat dimaknai  kesediaan memberi contoh pengamalan ajaran Islam yang santun dan menyejukkan dalam berkontribusi membangun bangsa dan negara, selain kesediaan memberi preseden yang baik dalam menjalin  ukhuwah islamiyah dan  ukhuwah basyariyah. Bukan sebaliknya, memberi contoh cara bertikai, kasak-kusuk, intrik berebut kekuasaan, dan tindakan tercela lainnya --yang ujung-ujungnya-- hanya untuk memperkaya diri dan partainya secara membabi buta. 
  5. Bagi umat Islam yang mampu dan dianugerahi rizki berlebih, berkurban bisa diartikan sebagai kesediaan diri untuk menyediakan sarana peribadatan, sarana perumahan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, dll. Cakupan pesan menyembelih hewan kurban dengan demikian bisa diartikan dengan kesediaan memotong deposito, mendebet rekening di bank, dan mensedekahkan sebagian keuntungan investasi saham di perusahaan-perusahaan bonafide. untuk mensejahterakan fakir-miskin  yang kurang beruntung secara ekonomi dan membantu saudara-saudara kita di NTB  yang sedang mendapatkan musibah. 

Selain itu,  ibadah kurban yang dilakukan, hendaknya dijadikan sebagai lambang untuk menyembelih sifat kebinatangan yang mungkin ada pada dirinya; seperti sifat tidak mengenal halal dan haram, sombong, dengki, serakah, suka pamer, dan ingin menang sendiri. 

Insya Allah, dengan hilangnya sifat-sifat kebinatangan tersebut, manusia akan terbebas dari perbuatan keji dan mungkar, baik yang merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain, serta menjadi sosok  manusia paripurna yang diridloi Allah SWT. 

Jama'ah Sholat 'Idul Adha Yang Dimulyakan Allah
Dari mimbar yang mulia ini kiranya patut disampaikan harapan, mudah-mudahan Hari Raya Idul Adha tahun 1443 H ini dapat menumbuhkan semangat baru bagi kita; semangat rela berkorban dalam wujudkan masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat, semangat dalam meningkatkan solidaritas kepada sesama, semangat berkurban dalam menyembelih egoisme pribadi untuk memperkokoh jalinan persaudaraan keumatan dan kebangsaan dalam bingkai NKRI, dan juga semangat untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam secara kaffah demi terwujudnya Negara yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafuur.. 

Akhirnya saya ucapkan, selamat berkurban. Semoga Allah menerima dan meridlai kurban kita. Amin. 

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم   


الخطبة الثانية

الله اكبر 7x  الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له, إرغاما لمن جحد به وكفر. وأشهد  أن محمدا عبده ورسوله, سيد الخلائق والبشر. 

أيها الناس, اتقوا الله, وافعلوا الخيرات, واجتنبوا السيئات. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد, وعلى اله وصحبه أجمعين وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.

-  اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات, والمسلمين والمسلمات, الأحياء منهم والأموات, إنك قريب مجيب الدعوات. 

 -ر َبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

-  ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رءوف الرحيم. سبحان ربك رب العزة عمايصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

عباد الله, إن الله يأمر بالعدل والإحسان, وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكروالبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. اذكروا الله العظيم يذكركم, واسئلوه من فضله يعطكم, ولذكر الله أكبر.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Profil Khotib: Dr. KH. Fuad Thohari, M.A, lahir di Ngawi, Jawa Timur, alumnus Pesantren MTs-MA “Al-Islam”, Joresan, Ponorogo (1983-1989), Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri (1989-1992),  Pendidikan Kader Ulama MUI Jakarta (1994-1996), dan Pendidikan Kader Ulama (PKU)  MUI Pusat (1997). 

Menyelesaikan S1 Jurusan Tafsir-Hadis Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta (1997), menyelesaikan S2 Kosentrasi Tafsir-Hadis IAIN Jakarta (1999), dan Program Doktor Islamic Studies (Konsentrasi Hadis dan Ulum al-Hadis) di Pascasarjana (S3) UIN Jakarta (2001-2007). 

Pernah mengikuti Postdoctoral (Daurah Tarbiyah fi al-Lughah wa al-Tsaqafah,      di Al-Azhar, Cairo, Mesir, tahun 2010; mengikuti Postdoctoral Fellowship Program For Islamic Higher Education (POSFI) di Tunisia,  tahun 2014, dan penelitian  di berbagai Negara lain; Arab Saudi (2013, 2018, 2022), China (Beijing) tahun 2014, Hongkong tahun 2015, Shanghai tahun 2016,  Hainan, Hoiku, 2020, Singapore, Malaysia,  Thailand (2011 dan 2017), India, Palestina, Israel, Mesir, Yordania (2018), dll.

Sehari-hari  sebagai dosen tetap di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta (sejak 2000), pengajar di Pascasarjana Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta, Pascasarjana Fakultas Syari’ah Dan Hukum, UIN Jakarta, Sekolah Pascasarjana (SPS) program S2 dan S3, UIN Jakarta,  Pendidikan Kader Ulama MUI, dosen beberapa kampus di Jakarta, dan sekitarnya..   

Menjadi narasumber kajian keilmuan, seminar, halaqah, talkshow di beberapa radio dan stasiun televisi, dan aktif menjadi peneliti nasional dan internasional,  menulis    di berbagai Jurnal Ilmiah, Media Massa, Buku,  serta Media Elektronik berbasis WEB (Internet).

Sekarang diamanahi sebagai Sekretaris Komisi FATWA MUI DKI Jakarta (2015-2024), , Dewan Syari’ah  LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika) MUI DKI Jakarta,  Pengurus LD-NU (Lembaga Dakwah PBNU), Wakil Rois Syuriah PWNU DKI Jakarta,   Penasihat  LBM  (Lembaga Bahtsul Matsa’il) PWNU DKI Jakarta, Pengurus PPSDM (Pusat Pengkajian Sumber Daya Manusia), UIN Jakarta, dan sebagai  Dewan Pertimbangan,  “Rahmat Semesta Center”, di Ciputat.

Alamat: Komplek Vila Inti Persada (VIP), Blok A.09 No.04, Jl. Raya Ciputat-Sawangan, Pamulang Timur, HP. 0816 110 8747

Jumat, 03 Juni 2022

E-Prix Formula E dan Jalan Politik Anies Baswedan

Gambar Jakarta Internasional E-Prix berdampingan dengan Jakarta Internasional Stadium (JIS)
Hiruk pikuk penyelenggaraam Formula E Jakarta berjalan panjang. Sejak tahun 2020 publik sudah disuguhkan berita-berita terkait dengan gelaran Formula E di Jakarta.

Pada 2020 silam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai sohibul  bait penyelenggaraan Formula E dengan kendaraan tenaga listrik ini, Pemprov DKI Jakarta sudah menyampaikan, bahwa jalan di sekitaran komplek Monas akan menjadi lokasi sirkuit Formula E, dan menetapkan Monas sebagai lokasi di gelarnya perhelatan kejuaraan dunia balapan Formula E yang katanya ramah lingkungan ini.

Setelah Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta, mengumumkan Monas sebagai lokasi sirkuit Formula E, selanjutnya Sang Gubernur melakukan revitalisasi kawasan Monas dengan menebang sejumlah pohon. Pada rentang waktu itu juga Pak Gubernur Anies pada Februari 2020 menginstruksikan Pemprov DKI melakukan uji coba aspal balap Formula E di sisi timur Monas.

Hal inilah  yang menjadi pemicu polemik gelaran Formula E Jakarta. Tindakan pengaspalan yang tidak permanen dengan bongkar pasang, penebangan pohon yang dianggap merusak lingkungan mendapat perlawanan dari sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta. 

Menurut hemat penulis, tindakan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta merevitalisasi kawasan Monas dengan menebang pohon-pohon yang telah terpelihara sekian lama sangatlah tidak bijaksana. Tidankan ini cenderung gegabah dan gagapan, melihat kondisi bangsa Indonesia secara keseluruhan waktu itu masih dalam kondisi berjuang melawan pandemi Covid-19. 

Kebijakan revitalisasi ini juga yang menjadikan lingkungan pemerintahan DKI Jakarta gaduh, tegang, antara Gubernur dan DPRD DKI Jakarta. 

Monas sebagai lokasi sirkuit Formula E sempat memunculkan drama saat Anies mengirim surat yang ditujukan kepada Menteri Sekretaris Negara sekaligus Ketua Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Sampai akhirnya Pemprov DKI Jakarta tak kunjung mendapatkan izin dari Pemerintah Pusat untuk menggelar ajang balap mobil listrik tersebut di kawasan cagar budaya Monas.

Perjalanan panjang penyelenggaraan kejuaran dunia Formula E Jakarta, akhirnya menemui titik terang setelah Ketua Panitia Penyelenggara Formula E Jakarta 2022 Ahmad Sahroni langsung mengumumkan Ancol sebagai lokasi sirkuit. Sirkuit ini mengambil sebagian jalan di tengah kawasan Taman Impian Jaya Ancol yang terletak di Jakarta Utara.

Kini Sirkuit tersebut telah terwujud sebagai realisasi dari rennacana besar Anies Baswedan memanjkan masyarakat Jakarta dan Indonesia untuk menikmati gelaran kejuaran dunia Formula E, di kampung sendiri.

Apakah penyelenggaraan Formula E Jakarta bermuara politis?

Hemat penulis perhelatan Formula E Jakarta, akan menyedot perhatian publik nasional dan dunia internasional. Mengingat gemuruh penyelenggaraan balapan ini multi dimensi. 

Mengingat sirkuit Formula E Jakarta ada di Ibukota Negara Indonesia, Jakarta bagian utara tepatnya. Letak sirkuit berada di fasilitas wisata Taman Impian Jaya Ancol, tempat rekreasi masyarakat ibukota. Selain itu Formula E Jakarta, juga menggunakan kendaraan lsitrik yang ramah lingkungan.

Maka, fenomena helatan akbar Formula E, oleh Pemerintah DKI Jakarta ini akan berbuah manis pada capaian Anies Baswedan sebagai pimpinan tertinggi di DKI Jakarta, yang sebentar lagi akan purna tugas. 

Sebelumnya nama Anies Baswedan sudah harum namanya karena sukses merampungkan pembangunan gedung  Jakarta International Stadium (JIS), dan sudah digunakan untuk gelaran olahraga internasional, yaitu Turnamen sepakbola International Youth Championship (IYC).

Tentu saja perhelatan akbar seperti kejuaran dunia balab Formula E Jakarta ini, akan mempunyai ekses politis bagi Anies Baswedan. Seperti sudah gencar dalam pemberitaan bahwa Anies Baswedan salah satu figur publik yang di gadang-gadang sebagai calon presiden republik indonesia selanjutnya.

Pada akhirnya sebagai anak bangsa kita semua harus berbangga karena Indonesia saat ini menjadi sorotan dunia, baik dari segi suksesnya melawan pandemi Covid-19, suksesnya menyelenggrakan balapan Motor GP di Sirkuit Mandalika, Sukses memyelenggarakan kejuaran Sepakbola junior internasional di Jakarta International Stadium (JIS), dan sukses menggelar balapan Formula E Jakarta, di Jakarta Internasional E-Prix,  Ancol Jakarta Utara.

Siapa pun juara Formula E Jakarta, maka akan terkenang selama hidupnya karena pernah balapan dan juara di sebuah sirkuit yang indah dan bangsa yang mengagunkan.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "E-Prix Formula E dan Jalan Politik Anies Baswedan", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/abdussalehradai8240/62998009d2634522f7200632/formula-e-dan-jalan-politik-anies-baswedan

Kreator: Abdus Saleh Radai
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Kamis, 02 Juni 2022

Menakar Ruh Pancasila di Era Milenial


Tugu Garuda Pancasila Paloh Sambas
Setiap saat kita bertemu dan melalui hari-hari besar kebangsaan kita sebagai warga negara yang merdeka dan berdaulat. Termasuk peringatan hari lahir Pancasila yang merupakan ideologi dasar tegaknya kedaulatan Republik Indonesia. Pancasila menjadi ruh perjalanan berbangsa dan bernegara bagi setiap warga negera yang berada di bawah kedaulatan negara yang bernama Indonesia.

Seperti kita ketahui banhwa Pancasila merupakan pilar ideologi utama bangsa Indonesia. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pacasila terdiri dari dua suku kata yang berasal dari bahasa sangsakerta yaitu Panca yang berarti lima, dan Sila yang berarti prinsip dasar atau asas. 

Sila-sila dari lima sila yang tercantum dalam ideologi Pancasila tersebut terdiri dari, Ketuahanan yang Maha Esa, Kemanusiaam yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. lima ideologi utama penyusun Pancasila adalah lima sila Pancasila, yang tercantum pada alinea keempat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (disingkat UUD 1945; terkadang juga disingkat UUD '45, UUD RI 1945, atau UUD NRI 1945) adalah konstitusi dan sumber hukum tertinggi yang berlaku di Republik Indonesia. UUD 1945 menjadi perwujudan dari dasar negara (ideologi) Indonesia, yaitu Pancasila, yang disebutkan secara gamblang dalam Pembukaan UUD 1945. (sumber: Naskah UUD 1945, diterbitkan pada tahun 1946)

Sekarang pertanyaanya apakah ruh atau spirit Pancasila masih ada di era Milenial ini?

Jawabannya pasti subjektif dan demensional. Tidak dapat dipungkiri dengan berlalunya zaman dan perkembangan teknologi yang terus memwarnai kehidupan akan menimbulkan ekses posisitf dan negatif bagi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dalam berbangsa dan bernegera.

Seperti misalnya Sila pertama dalam Pancasila kita semua di pandu dengan sebuah iedeologi hidup dalam bingkai Ketuhanan yang Maha Esa, maknanya  adalah setiap warga negara kesatuan Republik Indonesia harus menetapi suatu keyakinan dalam konsep ketuhanan sesuai dengan agamanya masing-masing. Artinya syarat utama menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) harus beragama. Percaya dan taat pada ajaran masing-masing agama dengan meneguhkan prinsip toleransi dalam beragama mengingat bangsa indonesia adalah bangsa yang majemuk, atau yang kita kenal dengan negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Ruh sila pertma ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi terkini yang kita kenal dengan generasi milenial, sebuah era dengan generasi yang serba instan. Fokus pada orientasi global dan cenderung pargmatis, serta tidak sedikit yang abai terhadap persoalan-persoalan ideologis, baik itu ideologi negara atau ajaran yang terkandung di dalamnya.

Prinsip Kemanusian yang Adil dan Beradab, relasi kemanusian kita, di sebuah era yang serba online ini seakan nyata tapi semu. Ada naluri atau intuisi dari sifat persahabatan, keluarga, dan kebersamaan itu mulai hilang akibat kemudahan-kemudahan komunikasi yang kita dapatakan melunturkan sikap kesahajaan. Mudah menghujat, mudah menyebarkan berita bohong, mudah menghakimi orang tanpa diawali dengan konfirmasi sebuah kebenarannya. Sehingga prinsip-prinsip keadilan dan akhlak sepertinya memudar bersama kecanggihan era yang memanja.

Sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia, menjadi pertaruhan penting di era milenial ini. di zaman teknologi yang telah mengontrol diri ini, sifat-sifa individulaistik telah mengkungkung pribadi-pribadi menajdi individualis, memisahkan diri dari komunitas besar berbangsa, mudah mendirikan kelompok-kelompok yang tidak sejalan dengan ruh kebangsaan. Separatisme meningkat, sikap-sikap sektarian tumbuh kembang menjamur dimana-mana. Sehingga rasa persatuan dan kesatuan dalam berbangsa tergerus oleh zaman dan kepentingan individu.

Pada sila ini Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, sila yang menjadi nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya peran serta negara harus hadir dalam kehdiupan berbangsa dan bernegara bagi rakyatnya. Ketika masyarakat Indonesia sudah selesai dalam kegiatan Pemilu, Pilkada, dan Pilpres, maka kita akan tahu wakil-wakil rakyat yang memiliki suara terbanyak dan jadi pemenangnya. Setiap wakil rakyat yang terpilih harus menjalankan tugas dan fungsinya dengan penuh tanggung jawab karena tugas-tugasnya sangat berpengaruh pada kehidupan rakyat.

Maka dari itu, kerakyatan yang dianut oleh bangsa Indonesia bukan hanya mencari suara terbanyak saja. Karena bangsa Indonesia menganut paham “kerakyatan” harus sesuai dengan apa yang tercantum di dalam Pancasila terutama pada sila keempat yang berbunyi Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, merupakan sila yang penuh tantangan dan butuh spirit yang kuat dari pengamalam Pancasila itu sendiri. Jika negara mampu memkanai dan menerapkan empat sila sebelumnya maka  Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia akan tercapai. tapi jika tidak, maka idelologi Pancasila hanya sebatas ideologi, yakni kehidupan berbangsa dengan idelogi Pancasila hampa tanpa ruh. 

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menakar Ruh Pancasila di Era Milenial", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/abdussalehradai8240/629707e4ce96e5243d12adb2/ruh-pancasila-di-era-milenial

Kreator: Abdus Saleh Radai 
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Rabu, 23 Maret 2022

KH. Agus Salim HS: Rahasia Amaliah Ziarah

KH. Agus Salim HS, Imam Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadziliyah WalQodiriyah Wan Naqsabandiyah Ponpok PETA Tulungagung

Bulan sya’ban adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Pada bulan sya’ban ini rasulallah berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan lainnya kecuali bulan ramadlan. Dengan menyitir sebuah hadits dalam kitab Al Ghunyah, yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jailani, dari Anas bin Malik bercerita, “Rasulallah Sallallhu Alaihi Wasallah bersabda, Dinamai Sya’ban karena ia mengumpulkan bagi bulan ramadlan kebaikan yang sangat banyak, dan di namai ramadlan, karena ia menghanguskan dosa-dosa.”

Keterangan di atas disampaikan KH. Agus Haslim HS, dalam kegiatan rutinan Jamaah Thoriqoh Syadziliyah Wal Qodiriyah Wan Naqsabadiyah, yang istiqomah dilaksanakan setiap malam selasa, di Majelis dizikir, Yayasan Manbaul Hikmah Warrisalah, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada hari Senin, (21/03/2022).

Dalam tausiyahnya KH. Agus Salim HS, menyampaikan bahwa setiap bulan sya’ban umat islam khususnya warga nahdilyyin senantiasa medawamkan dirinya melaksanakan ziarah kepada para waliyullah. Terutama ziarah makam walisongo dan para wali lainnya yang berada di tanah jawa.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ziarah kubur dengan mendatangi makam para waliyullah sebagai tujuan kunjungan ziarah. Sangat penting bagi ketua rombongan atau pimpinan zaiarah agar menetapkan dan meluruskan niat ziarah rombongannya.

Lalu Kiai Agus, menyampaikan seuah hadits terkait pentingnya meluruskan niat dalam setiap perbuatan, hususnya pelaksanaan amaliah ziarah ini.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

“Kiai Agus, menegaskan jika niatnya sudah benar maka hasilnya pasti benar dan barokah, tapi jika niatnya keliru maka tidak akan hasil, kalau pun berhasil biasanya istidraj,” terangnya.

KH. Agus Salim HS, menjelaskan manfaat ziarah kubur antara lain, adalah akan melembutkan hati, mengingatkan kepada kematian dan mengingatkan akan negeri akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah;

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

“Dahulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan kalian akan negeri akhirat namun jangan kalian mengucapkan kata-kata batil (di dalamnya) (HR Al-Hakim).

إني نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإن فيها عبرة

“Sesungguhnya dulu aku telah melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur, sesungguhnya pada ziarah kubur itu ada pelajaran (bagi yang hidup) (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Jadi rahasia di balik amaliah ziarah kubur adalah ketemu Allah, dengan wasilah ketemu, jumpa shahibul makamnya, maka hendaknya orang yang berziarah harus tahu makanan atau kesukaan orang yang diziarahi.

“Kiai Agus bertanya kepada jamaah, apa kesukaan para wali, jemaah menjawan ‘Allah’, ‘Lailaha Illallah’, karena itu dalam berziarah kita harus bawa Allah, caranya dengan memurnikan dan mensucikan niat hanya karena Allah,” papar Kiai Agus.

Makanya jadi pembimbing atau pimpinan rombongan ziarah itu berat, masing-masing jamaah pasti punya hajat dan tujuan dalam perjalanan ziarahnya. Sudah menjadi kewajiban pembimbing untuk mengarahkan tujuan ziarah dengan benar sesuai syariat.

Akhirnya Kiai Agus, mengajak para jamaah yang akan berangkat pergi ziarah pada tanggal 26-27 Maret 2022, untuk selalu meluruskan niat karena Allah. Allah yang selalu menjadi tujuan dalam setiap amal perbuatan kita.

“Bagi jamaah yang tidak berangkat jangan bersedih, pasang niat dan berdoa, insyaallah sampai juga,” Kiai Agus, memotivasi.

Ziarah yang benar, yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk silaturrahim kepada yang meninggal dan masih hidup. mengingat mati, akhirat, tafakur, dan untuk memberikan salam kepada ahli kubur serta mendoakan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka, dan menjadikan waliyullah sebagai wasilah kita kepada Allah. Tutup Kiai Agus. (ASR)

KH. Agus Salim HS: Perbanyaklah Tawashul Sampai Derajat Wushul

Drs. KH. Agus Salim HS
Dalam sebuah rutinan pengajian mingguan setiap malam Selasa, KH. Agus Salim HS senantiasa memotivasi para jemaahnya untuk selalu memperkuat amaliahnya dengan banyak tawashul dan dzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala. Pengajian dilaksanakan di Gedung Yayasan Manbaul Hikmah Warrisalah, sebuah lembaga pendidikan islam terpadu yang di pimpinnya.

Dalam keterangan pengajian setelah diawali dengan kegiatan kuhususiyah, KH. Agus Salim HS, menyampaikan bahwa pada hakekatnya manusia adalah butuh Allah. Para salikin yang menempuh jalur thoriqoh hendaknya menempatkan dirinya sebagai seorang makhluk ciptaan yang sadar akan kelemahan dan kealpaannya. Karena pada prinsipnya seorang salik harus menempa dirinya sekaligus menjadikan Allah satu-satunya dzat yang menjadi tujuan dalam perjalanannya.

Lalu Kiai Agus, menyampaikan satu ayat dalam Al-Qur’an, sebagai berikut;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Hanya untuk tujuan beribadah kepada Allah Ta’ala (bertauhid) sajalah umat manusia ini diciptakan. Allah kepada hambannya adalah makrifah sebagaimana disebut dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 di atas, bahwa jin dan manusia diciptakan untuk liya`budun yang diartikan Ibnu Abbas sebagai liya`rifun (makrifat kepada Allah). bahkan Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa makrifah merupakan awal dari kebutuhan hamba dari hikmah.

Salah satu metode yang harus dilakukan oleh seorang salik adalah dengan banyak-banyak dzikrullah di awali tawashul kepada rasul, nabi, sahabat, para walinya Allah, dan seorang mursyid thoriqoh yang ditetapi sebagai guru yang mampu dan mau membimbing jiwa kita untuk sampai kehadirat Allah Subhanahu wata’ala.

KH. Agus Salim HS menyerukan, mengajak para jemaahnya agar selalu bertawashul, karena rahasia dari tawashul itu adalah “Tawashul menguatkan jiwa.” Dengan istiqomah tawashul dan dzikrullah, maka jiwa batin kita akan menjadi kuat, tidak mudah goyah oleh godaan syetan yang berupa hawa nafsu. “Jangan bosan-bosan kita untuk tawashul, sampai kita ushul kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”

Boleh kita tidak tawashul lagi ketika sudah mencapai derajat wushul, yaitu puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan thoriqoh atau seorang salik setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-maqamat) yakni kemantapan tauhid dan makrifat. (ASR)

Kamis, 11 Maret 2021

KH. Agus Salim HS: Sholat Itu "Oleh Oleh" Rasulullah untuk Umatnya

KH. Agus Salim HS, Ketua Lembaga Dakwah PBNU


Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) K.H Agus Salim HS yang akrab disapa Abi menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj merupakan salah satu cara Allah Subhanahu Wata'ala menunjukkan kekuasan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini disampaikan Abi dalam video yang diunggah youtube NU Channel dengan judul "Hikmah Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW", Kamis (11/3).

Sebagaimana telah dijelaskan Al Qur'an dalam Surah al-Isra ayat pertama:

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡ

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Ayat ini, jelas Abi, menunjukkan suatu paradigma bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk sesuatu yang tidak mungkin bisa dicerna dengan akal syariah dengan akal pikiran manusia. Maka untuk itu, Kiai Agus mengatakan untuk Isra' Mi'raj ini perlu dipahami dengan di samping syariah juga dengan akidah. Bahwa Allah SWT menunjukkan kepada hambanya bahwa hamba dalam Al Qur'an hanya khusus untuk Nabi Muhammad SAW.

"Jadi gelar hamba itu gelar kemuliaan suatu gelar kehormatan yang hanya disanding oleh Nabi besar Muhammad SAW. Bahwa hamba itu adalah seorang yang betul-betul mengabdi dengan ikhlas tanpa pamrih tanpa ada supaya," jelas Abi.


Ketika orang beribadah kemudian dia supaya berarti dia itu pamrih, berarti dia mengharapkan selain Allah. Dan seorang hamba itu betul-betul mengabdi beramal sholih dasar tujuannya tidak ada lain hanya kepada Allah selalu mengutamakan Allah. Selalu Allah yang diutamakan, selalu Allah yang menjadi tujuan. Selain itu tidak, maka "hamba" di situ adalah suatu gelar yang tinggi yang hanya disandang oleh Nabi besar Muhammad SAW.

Isra' Mi'raj yang dilakukan Rasulullah SAW, betul-betul menunjukkan bahwa manusia lemah, bahwa manusia tidak bisa berbuat apapun, melainkan Allah SWT yang mempekerjakan semuanya. Kalau Allah mau, apapun bisa, kalau Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin.

Jadi kalau Isra' Mi'raj kita cerna dengan akal pikiran manusia yang terbatas ini, maka mereka tidak akan sepenuhnya percaya. Maka ketika Rasulullah pulang Isra' Mi'raj, Rasulullah sempat bingung untuk menjelaskan kepada umat dalam hal ini kaum Quraisy.

Namun ini tetap harus dijelaskan, diutarakan oleh Rasulullah tentang pengalaman dan kejadian yang dialami Nabi besar Muhammad SAW. Ketika Rasulullah menyampaikan pengalamannya tentang malam perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian langsung naik bertemu Allah dan sebelum Subuh sudah berada lagi di kota Makkah. Kalau orang-orang ini tidak mencerna dengan hati yang jernih dengan hati yang betul-betul yakin kepada Allah maka sulit untuk dipercaya.

Maka ketika Rasulullah menyampaikan, semuanya pun menolak, tapi ada salah seorang sahabat Rasulullah yakni Abu Bakar as-Siddiq yang membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Maka untuk itu, as-siddiq adalah suatu gelar yang disandang Abu Bakar, yang merupakan gelar kehormatan pemberian Nabi besar Muhammad SAW. Karena waktu itu, ketika Nabi menyampaikan, tidak ada satu orang pun yang percaya, melainkan Abu Bakar as-Siddiq dengan tegas dan yakin bahwa beliau percaya apa yang sudah dialami oleh Rasulullah dengan Isra' Mi'raj nya itu.

Lalu apa hikmahnya dari Isra' Mi'raj ini, bahwa kita harus paham bahwa kita manusia diciptakan Allah dibentuk dengan bentuk yang sempurna dengan bentuk yang baik, kemudian dimuliakan oleh Allah dan diatur. Dalam posisi ini kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa diperbuat oleh Allah SWT. Inilah sebetulnya akhlak, jadi orang ketika mau berkahlak ya harus betul-betul paham, bahwa kita ini tidak mampu berbuat apa-apa tanpa diapa-apakan oleh Allah SWT. Tidak ada yang mempekerjakan kecuali Dia, Allah SWT. Tidak ada upaya tidak ada kekuatan kecuali milik Allah SWT.

Kemudian apa oleh-oleh yang dibawa Rasulullah ketika sampai ketemu Allah? tidak ada lain adalah sholat lima waktu. Sholat lima waktu itu adalah suatu kewajiban yang dibebankan kepada Nabi besar Muhammad dan umatnya, karena sholat ini merupakan satu pondasi daripada amal ibadah. Bahkan nanti pertama kali amal manusia dihisab yakni sholat. Sholat di sini kembali kepada "hamba" tadi. Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Thâhâ/20:132)

Kiai Agus menjelaskan takwa di sini adalah dalam arti bahwa orang atau yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan. Lebih dalam lagi, takwa itu hati yang selalu berhubungan dengan Allah sebagaimana sabda Nabi, tidaklah mencapai derajat seorang hamba kepada takwa, sehingga hatinya senantiasa hubungan dengan Allah. Inilah hakikat daripada takwa.

"Mudah-mudahan dengan hikmah Isra' Mi'raj ini, umat nabi Muhammad SAW selalu beramal dengan ikhlas, amal ikhlas adalah amal sholih, amal sholih itu adalah amal yang tidak kecampuran apapun kecuali hanya Allah SWT," tandasnya mengakhiri. (ASR)

Rabu, 10 Juni 2020

KH. Said Aqil Siroj : Lembaga Dakwah NU Melanjutkan Risalah Islam

Ketum PBNU KH. Said Aqil Siroj
Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj mengikuti kegiatan halal bi halal daring yang diselenggarakan LD-PBNU. Kiai Said mengikuti dari kantor PBNU bersama jajaran Pengurus PBNU dan LD-PBNU, Rabu (10/6).

Kiai Said menyampaikan rasa syukur sebab sampai saat ini masyarakat hidup penuh damai dan tentram. Halal bi Halal ini merupakan cirikhas NU, cirikhas Islam Nusantara. Halal bi halal juga berguna untuk meningkatkan hubungan sesama manusia. Kiai Said mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan LD-PBNU di tengah pandemi Covid-19 ini.

"LDNU adalah garda terdepan dakwah NU, dakwah yang membawa risalah, dakwah yang menjanjikan keselamatan di dunia dan di akhirat," ungkap Kiai Said.

Kiai Said berpesan kepada para dai untuk selalu berbicara baik serta dibuktikan dengan perlakuan yang baik. Bagi Kiai Said orang Islam itu memiliki tutur kata yang baik dan juga perlakuan yang baik sebab meneruskan risalah Islam. Selain itu Kiai Said juga mengatakan bahwa Lembaga Dakwah PBNU melanjutkan risalah Islam yang dibawa Rasulullah Saw. sebab menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat.