"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"
Tampilkan postingan dengan label KH. Agus Salim HS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH. Agus Salim HS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2022

Kapolri Tetapkan Ferdy Sambo Tersangka, Dapatkan Apresiasi Ulama

KH. Agus Salim HS, Ketua Umum Majelis Dakwah Islam Nusantara (MADINA)

Jakarta – Ketua Umum Majelis Dakwah Islam Nusantara (MADINA) KH Agus Salim HS mengapresiasi langkah tegas jajaran Polri di bawah pimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah menetapkan Irjen Pol Ferdy Sambo sebagai tersangka dalam kasus  meninggalnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Ini merupakan komitmen dan langkah besar Polri dalam penegakkan hukum.

Saat ditemuai wartawan Liputan9.id, Kamis, (11/08/2022) di kediamannya, KH Agus Salim HS, Ulama NU asal Bekasi Jawa Barat tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah berani polri dalam mengusut sejara jujur terhadap kasusus hilangnya nyawa seseorang.

“Saya mengapresiasi dan mendukung langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dengan mencopot sejumlah jenderal dan perwira tinggi polisi yang diduga telah menghambat jalannya penyidikan kasus penembakan Brigadir Yoshua Hutabarat. Hal itu sebagai bentuk komitmen Polri guna membersihkan institusinya dari orang bermasalah”, ujar tokoh NU tersebut.

Sekarang sudah ada titik terang setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan perkembangan terbaru kasus meninggalnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka.

“Sekali lagi , saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kapolri, para penyidik, dan Timsus yang telah menetapkan Ferdy Sambo sebagai tersangka”, ucap Kiai Agus, yang juga Rois Jatman Idarah Syu’biyyah.

Selanjutnya KH Agus Salim HS, mengatakan langkah Kapolri ini, semakin membangun kepercayaan masyarakat terhadap istitusi Polri yang sama-sama kita banggakan.

“Semoga Kapolri beserta jajarannya selaludiberi kekuatan lahir dan batin, sehingga bisa menuntaskan kasus ini dan masyarakat mendapatkan jawaban yang pasti dan tuntas,” pungkasnya. (ASR)


Kamis, 04 Agustus 2022

KH. Agus Salim HS: Hindari Dukun dalam Berobat, NU kan Punya JRA Viral Seteru Pesulap Merah dan Gus Samsudin

KH. Agus Salim HS, Ketua Umum Majelis Dakwah Islam Nusantara (MADINA)/foto: ASR

Jakarta – Menyikapi pemberitaan yang sedang viral terkait perseteruan Pesulap Merah dengan “Gus” Samsudin yang diduga melakukan penipuan dengan modus pengobatan. Praktek pembodohan dan membohongi masyarakat ini terkuak setelah pesulap merah melalui konten youtubnya membongkar kebohongan praktek pengobantan Samsudin.

Samsudin merupakan pemilik Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sedangkan Pesulap Merah merupakan YouTuber yang punya konten membongkar kebohongan dukun-dukun. Nama asli pria berpenampilan merah-merah itu adalah Marcel Radhival.

Tentu saja peristiwa di atas menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya warga Blitar dan penduduk sekitar Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun.

Hal ini banyak menarik perhatian masyarakat luas termasuk Ketua Majelis Dakwah Islam Nusantara (MADINA) KH. Agus Salim HS, seorang ulama yang selalu menekankan kemurnian dalam amaliah ibadah kepada Allah, jangan sampai ternoda oleh-oleh bau-bau hikmah atau praktek perdukunan, termasuk ikhtiar dalam berobat.

“Hindari parktek perdukungan, dalam hal pengobatan NU itu punya JRA, Jam’iyyah Ruqyah Aswaja Annahdliyah”, ujar Kiai Agus tegas, saat ditemuai wartawan liputan9.id, di kediamannya, Kamis (04/08)

JRA itu praktek pengobatannya menggunakan asmanya Allah, menggunakan media pengobatan tradisional, seperti bekam, totok syaraf, terapi, ramuan obat dan lain sebagainya.

“Segala bentuk penyakit Allah sediakan obatnya, jadi berobatlah dengan cara yang diridhai Allah,” pungkas Kiai Agus, yang juga Pembina JRA tersebut. (ASR)


Kamis, 14 Juli 2022

Selamat Ulang Tahun Abi KH. Agus Salim HS

KH. Agus Salim HS, Pimpinan Perguruan Manbaul Hikmah Warrisalah/foto by: Abdus Saleh Radai

KH. Agus Salim HS, adalah seorang tokoh masyarakat dan pemuka agama yang masyhur dikalangan warga nahdliyin, khususnya di Kabupaten Bekasi Jawa Barat, tempat kelahirannya. Beliau dikenal juga sebagai seorang sufi dengan menekuni amaliah thoriqoh syadziliyah, qodiryah dan thoriqoh naqsabandiyah. Semenjak remaja sudah aktif sebagai murid thoriqoh dengan berguru kepada Hadlratussyeikh KH.Mahfudz Syafi'i, murid dari Mbah Hasbullah Marzuki Kutoanyar, murid dari Mbah KH. Mustaqim bin Husein, tokoh sufi yang membawa ajaran thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah Pondok PETA Tulungagung ke Bekasi Jawa Barat. Saat ini, KH. Agus Salim HS, juga sebagai Rois Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), dan Imam Khususiyah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah (TSQN) Pondok PETA Tulungagung.

Baca Juga: Biografi KH. Mahfudz Syafi'i Pembawa Thoriqoh Syadziliyah, Qodiriyah, Naqsabadiyah Pondok PETA Tulungagung ke Jawa Barat

Sewaktu masih berada di bangku Madrasah Aliyah, selain menjalani hidup sebagai salikin (belajar ilmu batin), KH. Agus Salim HS juga aktif mengikuti kegiatan ke-Nu-an, di bangku Madrasah Aliyah Yapink yang Secara geografis, Madrasah Aliyah (MA) PINK 03 Tambun Selatan terletak di Jalan Madrasah  Kp. Rukem RT. 004 Rw. 013 Ds. Mangun Jaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Singkanya setelah aktif diberbagai organisasi NU dan menggeluti ajaran thoriqoh dari maha guru Hadlratussyeikh KH. Mahfudz Syafi'i, dengan berbagai ujian dan rintangan akhirnya KH. Agus Salim HS, dipercaya untuk memimpin Lembaga Dakwah PBNU periode kepengurusan 2015-2021. Sekaligus menjadi Imam Khususiyah thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah (TSQN) Pondok PETA Tulungagung wilayah Bekasi Jawa Barat dan Ketua Pembina Forum Silaturahmi Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah (Formij-TSQN).

Baca Juga: Sejarah Berdirinya Pondok PETA (Pesulukan Thoriqoh Agung) Tulungagung

KH. Agus Salis HS, lahir dari seorang perempuan sholihah. Masyarakat sekita familiar dengan sebutan Hajjah Manyoh, berasal dari Kampung Tanah Baru, desa Karang Baru, yang berada di kecamatan Cikarang Utara, salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Bekasi wilayah Jawab Barat. Beliau lahir bertepatan dengan tanggal 12 Juni 1963. Menurut keterangan beliau, yang diceritakan oleh ibundanya bahwa, Pada waktu hamil ibundanya bermimpi melihat 2  (dua)  bulan purnama. Ayahnya adalah Haji Salim Muhari, seorang pengusaha sukses, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh di Cikarang dan sekitarnya.

Setelah purna tugas sebagai Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH. Agus Salim HS, saat ini fokus melayani para muridnya mengajar ilmu batin (ilmu haq), rutin setiap hari jum'at dengan kegiatan Musyawarah Jum'at, Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah (TSQN) setiap malam Selasa, rutin mengajar di Ponpes Thoriqoh Al Istighotsah Bulak Kapal, dan Pondok Thoriqoh Al Istighotsah Setu. Sekaligus istiqomah melakukan pembinaan Majelis Dakwah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Madinah). 

Kini tepat hari Minggu, 12 Juni 2022 KH. Agus Salim HS ulang tahun yang ke 59. Sebagai murid saya mengucapkan selamat ulang tahun KH. Agus Salim HS, semoga Allah senantiasa memelihara kesehatannya dan Allah berkahi segala urusannya sehingga senantiasa terus membimbing kami para muridnya. Amin

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Selamat Ulang Tahun Abi KH. Agus Salim HS", Klik untuk baca: 
https://www.kompasiana.com/abdussalehradai8240/62a70812bb448665c73e5ea2/selamat-ulang-tahun-abi-kh-agus-salim-hs

Kreator: Abdus Saleh Radai

Rabu, 23 Maret 2022

KH. Agus Salim HS: Rahasia Amaliah Ziarah

KH. Agus Salim HS, Imam Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadziliyah WalQodiriyah Wan Naqsabandiyah Ponpok PETA Tulungagung

Bulan sya’ban adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Pada bulan sya’ban ini rasulallah berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan lainnya kecuali bulan ramadlan. Dengan menyitir sebuah hadits dalam kitab Al Ghunyah, yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jailani, dari Anas bin Malik bercerita, “Rasulallah Sallallhu Alaihi Wasallah bersabda, Dinamai Sya’ban karena ia mengumpulkan bagi bulan ramadlan kebaikan yang sangat banyak, dan di namai ramadlan, karena ia menghanguskan dosa-dosa.”

Keterangan di atas disampaikan KH. Agus Haslim HS, dalam kegiatan rutinan Jamaah Thoriqoh Syadziliyah Wal Qodiriyah Wan Naqsabadiyah, yang istiqomah dilaksanakan setiap malam selasa, di Majelis dizikir, Yayasan Manbaul Hikmah Warrisalah, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada hari Senin, (21/03/2022).

Dalam tausiyahnya KH. Agus Salim HS, menyampaikan bahwa setiap bulan sya’ban umat islam khususnya warga nahdilyyin senantiasa medawamkan dirinya melaksanakan ziarah kepada para waliyullah. Terutama ziarah makam walisongo dan para wali lainnya yang berada di tanah jawa.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ziarah kubur dengan mendatangi makam para waliyullah sebagai tujuan kunjungan ziarah. Sangat penting bagi ketua rombongan atau pimpinan zaiarah agar menetapkan dan meluruskan niat ziarah rombongannya.

Lalu Kiai Agus, menyampaikan seuah hadits terkait pentingnya meluruskan niat dalam setiap perbuatan, hususnya pelaksanaan amaliah ziarah ini.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

“Kiai Agus, menegaskan jika niatnya sudah benar maka hasilnya pasti benar dan barokah, tapi jika niatnya keliru maka tidak akan hasil, kalau pun berhasil biasanya istidraj,” terangnya.

KH. Agus Salim HS, menjelaskan manfaat ziarah kubur antara lain, adalah akan melembutkan hati, mengingatkan kepada kematian dan mengingatkan akan negeri akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah;

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

“Dahulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan kalian akan negeri akhirat namun jangan kalian mengucapkan kata-kata batil (di dalamnya) (HR Al-Hakim).

إني نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإن فيها عبرة

“Sesungguhnya dulu aku telah melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur, sesungguhnya pada ziarah kubur itu ada pelajaran (bagi yang hidup) (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Jadi rahasia di balik amaliah ziarah kubur adalah ketemu Allah, dengan wasilah ketemu, jumpa shahibul makamnya, maka hendaknya orang yang berziarah harus tahu makanan atau kesukaan orang yang diziarahi.

“Kiai Agus bertanya kepada jamaah, apa kesukaan para wali, jemaah menjawan ‘Allah’, ‘Lailaha Illallah’, karena itu dalam berziarah kita harus bawa Allah, caranya dengan memurnikan dan mensucikan niat hanya karena Allah,” papar Kiai Agus.

Makanya jadi pembimbing atau pimpinan rombongan ziarah itu berat, masing-masing jamaah pasti punya hajat dan tujuan dalam perjalanan ziarahnya. Sudah menjadi kewajiban pembimbing untuk mengarahkan tujuan ziarah dengan benar sesuai syariat.

Akhirnya Kiai Agus, mengajak para jamaah yang akan berangkat pergi ziarah pada tanggal 26-27 Maret 2022, untuk selalu meluruskan niat karena Allah. Allah yang selalu menjadi tujuan dalam setiap amal perbuatan kita.

“Bagi jamaah yang tidak berangkat jangan bersedih, pasang niat dan berdoa, insyaallah sampai juga,” Kiai Agus, memotivasi.

Ziarah yang benar, yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk silaturrahim kepada yang meninggal dan masih hidup. mengingat mati, akhirat, tafakur, dan untuk memberikan salam kepada ahli kubur serta mendoakan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka, dan menjadikan waliyullah sebagai wasilah kita kepada Allah. Tutup Kiai Agus. (ASR)

KH. Agus Salim HS: Perbanyaklah Tawashul Sampai Derajat Wushul

Drs. KH. Agus Salim HS
Dalam sebuah rutinan pengajian mingguan setiap malam Selasa, KH. Agus Salim HS senantiasa memotivasi para jemaahnya untuk selalu memperkuat amaliahnya dengan banyak tawashul dan dzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala. Pengajian dilaksanakan di Gedung Yayasan Manbaul Hikmah Warrisalah, sebuah lembaga pendidikan islam terpadu yang di pimpinnya.

Dalam keterangan pengajian setelah diawali dengan kegiatan kuhususiyah, KH. Agus Salim HS, menyampaikan bahwa pada hakekatnya manusia adalah butuh Allah. Para salikin yang menempuh jalur thoriqoh hendaknya menempatkan dirinya sebagai seorang makhluk ciptaan yang sadar akan kelemahan dan kealpaannya. Karena pada prinsipnya seorang salik harus menempa dirinya sekaligus menjadikan Allah satu-satunya dzat yang menjadi tujuan dalam perjalanannya.

Lalu Kiai Agus, menyampaikan satu ayat dalam Al-Qur’an, sebagai berikut;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Hanya untuk tujuan beribadah kepada Allah Ta’ala (bertauhid) sajalah umat manusia ini diciptakan. Allah kepada hambannya adalah makrifah sebagaimana disebut dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 di atas, bahwa jin dan manusia diciptakan untuk liya`budun yang diartikan Ibnu Abbas sebagai liya`rifun (makrifat kepada Allah). bahkan Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa makrifah merupakan awal dari kebutuhan hamba dari hikmah.

Salah satu metode yang harus dilakukan oleh seorang salik adalah dengan banyak-banyak dzikrullah di awali tawashul kepada rasul, nabi, sahabat, para walinya Allah, dan seorang mursyid thoriqoh yang ditetapi sebagai guru yang mampu dan mau membimbing jiwa kita untuk sampai kehadirat Allah Subhanahu wata’ala.

KH. Agus Salim HS menyerukan, mengajak para jemaahnya agar selalu bertawashul, karena rahasia dari tawashul itu adalah “Tawashul menguatkan jiwa.” Dengan istiqomah tawashul dan dzikrullah, maka jiwa batin kita akan menjadi kuat, tidak mudah goyah oleh godaan syetan yang berupa hawa nafsu. “Jangan bosan-bosan kita untuk tawashul, sampai kita ushul kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”

Boleh kita tidak tawashul lagi ketika sudah mencapai derajat wushul, yaitu puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan thoriqoh atau seorang salik setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-maqamat) yakni kemantapan tauhid dan makrifat. (ASR)

Kamis, 11 Maret 2021

KH. Agus Salim HS: Sholat Itu "Oleh Oleh" Rasulullah untuk Umatnya

KH. Agus Salim HS, Ketua Lembaga Dakwah PBNU


Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) K.H Agus Salim HS yang akrab disapa Abi menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj merupakan salah satu cara Allah Subhanahu Wata'ala menunjukkan kekuasan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini disampaikan Abi dalam video yang diunggah youtube NU Channel dengan judul "Hikmah Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW", Kamis (11/3).

Sebagaimana telah dijelaskan Al Qur'an dalam Surah al-Isra ayat pertama:

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡ

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Ayat ini, jelas Abi, menunjukkan suatu paradigma bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk sesuatu yang tidak mungkin bisa dicerna dengan akal syariah dengan akal pikiran manusia. Maka untuk itu, Kiai Agus mengatakan untuk Isra' Mi'raj ini perlu dipahami dengan di samping syariah juga dengan akidah. Bahwa Allah SWT menunjukkan kepada hambanya bahwa hamba dalam Al Qur'an hanya khusus untuk Nabi Muhammad SAW.

"Jadi gelar hamba itu gelar kemuliaan suatu gelar kehormatan yang hanya disanding oleh Nabi besar Muhammad SAW. Bahwa hamba itu adalah seorang yang betul-betul mengabdi dengan ikhlas tanpa pamrih tanpa ada supaya," jelas Abi.


Ketika orang beribadah kemudian dia supaya berarti dia itu pamrih, berarti dia mengharapkan selain Allah. Dan seorang hamba itu betul-betul mengabdi beramal sholih dasar tujuannya tidak ada lain hanya kepada Allah selalu mengutamakan Allah. Selalu Allah yang diutamakan, selalu Allah yang menjadi tujuan. Selain itu tidak, maka "hamba" di situ adalah suatu gelar yang tinggi yang hanya disandang oleh Nabi besar Muhammad SAW.

Isra' Mi'raj yang dilakukan Rasulullah SAW, betul-betul menunjukkan bahwa manusia lemah, bahwa manusia tidak bisa berbuat apapun, melainkan Allah SWT yang mempekerjakan semuanya. Kalau Allah mau, apapun bisa, kalau Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin.

Jadi kalau Isra' Mi'raj kita cerna dengan akal pikiran manusia yang terbatas ini, maka mereka tidak akan sepenuhnya percaya. Maka ketika Rasulullah pulang Isra' Mi'raj, Rasulullah sempat bingung untuk menjelaskan kepada umat dalam hal ini kaum Quraisy.

Namun ini tetap harus dijelaskan, diutarakan oleh Rasulullah tentang pengalaman dan kejadian yang dialami Nabi besar Muhammad SAW. Ketika Rasulullah menyampaikan pengalamannya tentang malam perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian langsung naik bertemu Allah dan sebelum Subuh sudah berada lagi di kota Makkah. Kalau orang-orang ini tidak mencerna dengan hati yang jernih dengan hati yang betul-betul yakin kepada Allah maka sulit untuk dipercaya.

Maka ketika Rasulullah menyampaikan, semuanya pun menolak, tapi ada salah seorang sahabat Rasulullah yakni Abu Bakar as-Siddiq yang membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Maka untuk itu, as-siddiq adalah suatu gelar yang disandang Abu Bakar, yang merupakan gelar kehormatan pemberian Nabi besar Muhammad SAW. Karena waktu itu, ketika Nabi menyampaikan, tidak ada satu orang pun yang percaya, melainkan Abu Bakar as-Siddiq dengan tegas dan yakin bahwa beliau percaya apa yang sudah dialami oleh Rasulullah dengan Isra' Mi'raj nya itu.

Lalu apa hikmahnya dari Isra' Mi'raj ini, bahwa kita harus paham bahwa kita manusia diciptakan Allah dibentuk dengan bentuk yang sempurna dengan bentuk yang baik, kemudian dimuliakan oleh Allah dan diatur. Dalam posisi ini kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa diperbuat oleh Allah SWT. Inilah sebetulnya akhlak, jadi orang ketika mau berkahlak ya harus betul-betul paham, bahwa kita ini tidak mampu berbuat apa-apa tanpa diapa-apakan oleh Allah SWT. Tidak ada yang mempekerjakan kecuali Dia, Allah SWT. Tidak ada upaya tidak ada kekuatan kecuali milik Allah SWT.

Kemudian apa oleh-oleh yang dibawa Rasulullah ketika sampai ketemu Allah? tidak ada lain adalah sholat lima waktu. Sholat lima waktu itu adalah suatu kewajiban yang dibebankan kepada Nabi besar Muhammad dan umatnya, karena sholat ini merupakan satu pondasi daripada amal ibadah. Bahkan nanti pertama kali amal manusia dihisab yakni sholat. Sholat di sini kembali kepada "hamba" tadi. Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Thâhâ/20:132)

Kiai Agus menjelaskan takwa di sini adalah dalam arti bahwa orang atau yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan. Lebih dalam lagi, takwa itu hati yang selalu berhubungan dengan Allah sebagaimana sabda Nabi, tidaklah mencapai derajat seorang hamba kepada takwa, sehingga hatinya senantiasa hubungan dengan Allah. Inilah hakikat daripada takwa.

"Mudah-mudahan dengan hikmah Isra' Mi'raj ini, umat nabi Muhammad SAW selalu beramal dengan ikhlas, amal ikhlas adalah amal sholih, amal sholih itu adalah amal yang tidak kecampuran apapun kecuali hanya Allah SWT," tandasnya mengakhiri. (ASR)