"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"
Tampilkan postingan dengan label anak negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak negeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

INTROSPEKSI DIRI


Terdengar lantunan nada-nada hidup
Menyemai kisah gelombang,menata letak pijakan
Lontarkan sabda dalam reruntuhan jiwa
Sepi dalam keramaian, teriak beringas menantang sunyinya malam
Cahaya bintang memancar diantara kabut hitam
Menemani senyapnya harapan samar meski dekat dalam pandangan

Aku duduk menatap lepas, peri yang hilang
Mengadu pada sebatang bunga jingga yang penuh misteri
Mekarmu berganti….ganti
Kemarin kau mekar dengan warna yang anggun, serta aroma yang manis
Kini kau menyembul melepas kulit ari
Semakin kutatap, kau tampak cenggang dan berani melepas kuntum satu demi Satu
Bau wewangian menyengat marangsang nafsu birahi

Singgasana luapan hasrat dan gelora
Serpihan bisikan indah kian memudar dan berputar
Lelah terasa meremas mayapada
Tingkahku diintip binatang malam, jenggah dan terpengarah
Angin malam pun kaget, tatkala melihat adegan indah terukir dalam setiap gerakan tubuhku
Desiran angin malam berputar mengitari tubuhku yang menyatu dalam alam fikiranku lenyap tanpa bekas
Rasaku sirna bersama maya
Tubuhku menyatu terengkuh oleh alam

Setiap gerakan tangan dan hembusan nafasku
Membekas, memerah seakan terbakar, membentuk garis bak pelangi
Sekujur tubuhku hangat dan memanas
Sampai akhirnya sampai pada titik makna
Aku mengalahkan aku

Dan bunga jingga pun tersenyum bahagia
Tatkala tubuhku terkulai lemas tanpa daya, merepah dalam sedekap
Pada saat yang sama sepiku datang lagi, karena sukmamu menyatu dalam aku
Alam hanya bagian dariku…..tidak lagi menyatu….!!!


Pabuaran, 25 Juli 2002

Selasa, 02 Februari 2010

Bangkit Saudaraku


Allah ! Tuhan seru orang-orang tertindas
Orang-orang melarat, dan sengsara
Mengatup bibir melantunkan lafasdz dengan namamu
Rintihan yang kesakitan, erangan yang menderita
Tuhan ! kau berada dalam tempat terpencil
Kau ada dalam gubuk-gubuk
Namamu terselip pada gubuk masyarakat pinggiran

Tuhan, dalam kegetiran selalu ada namamu
Dalam ketakutan selalu kau sertai
Renungan gelandangan malang
Rengikan pepohonan sepanjang balantara kemiskinan
Kebengisan sering kali berujung tangis darah dan kesakitan
Berujung dengan mengadu pasrah dengan namamu
Tanpa penyelesaian, dikucilkan dan terabaikan

Hanya kau yang menghargai
Hanya kau jalan satu-satunya
Hanya kau teman setia dan mengadu
Dikala musibah kefakiran dan kemiskinan
Melilit erat di pinggang kehidupan
Sudimu terpatri dalam semangat tabah dan sabar

Aku datang ! sungkan menyebutmu di kala aku butuh
Aku risih ! memanggilmu dikala sedang kebingungan
Aku malu ! menatapmu ketika mengabaikanmu
Kemunafikan senantiasa menyelubungiku
Aku sering mendustaimu
Namun kau tetap memeliharaku dalam keceriaan

Ya Tuhan ya rahman ya rahim
Kebohongan acapkali jadi topeng kebenaran
Kapan jujur dapat merias kehidupan kemanusiaan
Kapan kebaikan dapat menebar kebaikan bersama
Kapan arogansi dapat berganti dengan peduli akan sesama
Sampai kapan kemiskinan dapat terangkat
Berdiri tegak dalam semangat kebebasan

Miskin, melarat, perkampungan kumuh jadi objek dan sorotan
Momen sesaat dalam kepentingan
Hilang tanpa bekas manfaat bagi kemanusiaan
Perhatian hanya darimu
Rahmat dan ketabahan hanya karenamu
Adakah keterpurukan, kemiskinan dan ketindasan
Kehendak dan ciptamu?
Atau hanya bias kepongahan dan kesombongan makhlukmu yang beruntung

Ya Tuhan! aku jenuh, bosan melihat realitas saudara-saudaraku
Namun aku juga prihatin dan sedih dalam rasa bersamanya
Dengan cara apa aku dapat nengangkat derajatnya
Dengan apa aku harus menunjukan kebesaran jiwanya
Dengan apa mereka dapat hidup sejajar dengan yang mujur
Dengan apa pula dia dapat terangkat dengan iman padamu
Apa mungkin dengan harta, itu hanya dalam mimpi indah dan anganya

Tunjukan ya Tuhan dengan nyata
Tanpa menunggu akhiratmu
Bahwa mereka lebih mulya dari mereka yang beruntung
Tapi lupa dengan esensi keilahianmu
Nyatakan dalam kehidupan dunianya
Angkat namamu dari pinggiran keterasingan

Karena aku yakin kemiskinan bukanlah kodrat
Ketertindasan tidak semata-mata akibat kebodohan
Mereka tersingkir dan terpinggirkan oleh keangkuhan dan keserakahan
Bukankah kau tau Tuhan
Setiap saat aku melihat pengemis tua yang merengik
Orang buta meminta-minta
Memohon sedikit penyambung hidup
Aku selalu memohon agar kau menjaga dia dalam iman
Iman kepadamu wahai yang tunggal

Kadang aku sendiri merasa dalam kesombongan
Aku jarang membantu mereka
Aku kurang peduli pada mereka
aku cuek, acuh tak acuh pada mereka
Padahal sebenarnya esensiku sama dengan mereka
Sering sekali terburu-buru dan melangkah jauh dari mereka
Mengejar waktu sampai lengah pada mereka

Sampai kapan situasi ini akan berlanjut
Ya Tuhan ! sampai kapan cerita ini akan berakhir
Aku resah jika membiarkanya
Namun apalah dayaku, tanpa perlindungan darimu
Tapi aku senang sekali bersamanya
Bermain, ngobrol, bersahabat seperti keluarga
Tapi hanya itu yang dapat kulakukan

Aku hanya bisa berdoa dalam kesendirian
Dengan semangat bahagia yang mereka sungguhkan
Meski aku sadar mereka dalam situasi kelam
Aku tidak dapat berbuat apa-apa
Kecuali hanya dengan kata meratap belas kasihan darimu
Jagalah mereka dalam iman
Jagan biarkan mereka lupa, kufur padamu
Karena situasi kemiskinan
Ketertindasan
Diskriminasi
Semua itu tidak semata-mata kerena kelalaian


By. Abdus Saleh Maller