BEKASI - Mbah Kakung atu Mbah Hasbulloh Marzuki adalah ayah dari istri KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu Nyai Hj. Muhshonah Ch. (Ayah mertua sekaligus guru dari KH. Mahfudz Syafi’i). Beliau lahir di Kolomayan, Kediri, Jawa Timur pada hari Selasa Kliwon, 09 April 1901 M. atau 19 Dzul Hijjah 1318 H. yaitu putra dari pasangan suami istri KH. Marzuqi dan Nyai Kasiyam. Nasab KH. Hasbulloh bersambung kepada Seorang ‘Alim Hasan Besari, Ponorogo. Pada saat kecil beliau mengaji dan sekolah di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur yang diasuh oleh KH. Imam Jazuli. Karena kondisi Ekonomi beliau, maka jarak Kolomayan–Ploso yang sekitar 7 km beliau tempuh dengan berjalan kaki setiap harinya dan mengaji serta sekolah dengan perlengkapan sederhana bahkan dengan pakaian yang hanya satu-satunya untuk di kenakan setiap hari. Pernah pada suatu saat beliau dikeluarkan dari kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran karena belum membayar iuran. Namun, karena kegigihan dan semangat beliau yang tinggi, beliau rela belajar diluar kelas dibawah jendela.
Sabtu, 27 Juli 2019
BIOGRAFI MBAH KAKUNG KH. HASBULLOH MARZUKI
BEKASI - Mbah Kakung atu Mbah Hasbulloh Marzuki adalah ayah dari istri KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu Nyai Hj. Muhshonah Ch. (Ayah mertua sekaligus guru dari KH. Mahfudz Syafi’i). Beliau lahir di Kolomayan, Kediri, Jawa Timur pada hari Selasa Kliwon, 09 April 1901 M. atau 19 Dzul Hijjah 1318 H. yaitu putra dari pasangan suami istri KH. Marzuqi dan Nyai Kasiyam. Nasab KH. Hasbulloh bersambung kepada Seorang ‘Alim Hasan Besari, Ponorogo. Pada saat kecil beliau mengaji dan sekolah di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur yang diasuh oleh KH. Imam Jazuli. Karena kondisi Ekonomi beliau, maka jarak Kolomayan–Ploso yang sekitar 7 km beliau tempuh dengan berjalan kaki setiap harinya dan mengaji serta sekolah dengan perlengkapan sederhana bahkan dengan pakaian yang hanya satu-satunya untuk di kenakan setiap hari. Pernah pada suatu saat beliau dikeluarkan dari kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran karena belum membayar iuran. Namun, karena kegigihan dan semangat beliau yang tinggi, beliau rela belajar diluar kelas dibawah jendela.
Jumat, 26 Juli 2019
KH. AGUS SALIM: JANGAN MERASA DIRI PALING SHALEH DAN JANGAN KAVLING SURGA
MEKAH - Jemaah haji dari berbagai belahan dunia sudah berkumpul di tanah suci baik di Madinah atau pun di Mekah. begitu juga dengan KH. Agus Salim, Imam Khususiyah Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah Pondok PETA Tulungagung, tahun ini juga berangkat memenuhi panggilan Allah utuk menjadi tamunya dalam menyempurnakan rukun islamnya yang kelima yaitu menunaikan ibadah haji.
Beliau KH. Agus Salim, yang juga Ketua Lembaga Dakwah PBNU, tahun ini berangkat beserta rombongan Jamaah Thoriqoh Syadziliyah wal Qodiriyah lainnya; istri beliau Ibu Nyai Hj. Zakiyah Zaini Ahmad, H. Hendra Cipta Dinata beserta istrinya Rokayah H. Sodikin, dan sahabat seperjuangan beliau KH. Ahmad Zaelani dan lain-lain. (26/07/2019)
Beliau mengabarkan bahwa semua rombongan dalam kondisi sehat dan baik, selama di Madinah banyak sekali tempat-tempat ziarah yang sudah dikunjungi terutama jejak-jejak perjalanan Rasulallah SAW selama penyebaran agama Islam dan risalah Kerasulannya. Yang paling utama adalah ziarah ke Makam Rasulallah beserta sahabatnya Sayyidina Abu Bakar Siddiq dan Sayyidina Umar bin Khottab di Masjid Nabawi. Berkunjung ke tempat kelahiran Siti Fatimah Azzahrah, Masjid Qiblatain, Masjid Kuba, Masjid Subuh, Masjid Bayangan, pemakaman Badar tempat para sahabat Rasulallah gugur syahid dalam perang Badar.
Rabu, 24 Juli 2019
KH. MAHFUDZ SYAFI'I GURU AGUNG PEMBAWA THORIQOH PONDOK PETA TULUNGAGUNG
I. KELAHIRAN
| Hadlratussyekh Mahfudz Syafi'i Pendiri Ponpes Al-Istighotsah |
Jombang dulu adalah wilayah kerajaan Majapahit bagian barat, Jombang kemudian terpisah dari Mojokerto di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromojoyo yang di tandai dengan tampilnya pejabat pertama mulai tahun 1910 M. sampai 1930 M., yaitu Raden Adipati Ario Suryo Adininigrat.
Pada tahun ketiga setelah inilah bersamaan peristiwa duka kyai besar Jombang yang kitabnya di gunakan seluruh santri indonesia bahkan para mahasiswa termasuk mahasiswa luar negri, yaitu kyai Muhammad Ma’shum Bin ‘Ali penyusun kitab Ilmu Shorof Al-Amtsilatut Tashrifiyyah wafat, yakni tepatnya pada hari Kamis, 9 Maret di tahun yang sama 1933 M. Atau 12 Dzul Qo’dah 1351 H. Lahirlah seorang bayi laki-laki putra pertama dari pasangan suami istri Bapak URIP dan Ibu MUNFA’ATUN. (saat itu nama Urip berubah menjadi Syafi’i karena kebiasaan orang dulu yang merubah namanya setelah pulang haji).
Senin, 01 Juli 2019
DARI SANTRI MENUJU DPRD KABUPATEN BEKASI
BEKASI - H. Hendra Cipta Dinata, SE, MM., satu-satunya anggota DPRD (Dewan Pewakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Bekasi terpilih dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tahun 2019. H. Hendra maju di Dapil VI Nomor Urut 4 yg terdiri dari tiga Kecamatan yaitu Kec. Cikarang Utara, Cikarang Timur, dan Karang Bahagia.
Hendra Cipta Dinata atau akrab disapa Haji Hendra adalah seorang pengusaha Muda NU (Nahdlatul Ulama) yang sukses di Kabupaten Bekasi. Dia adalah tokoh muda dengan talenta besar. Pengamal Thoriqoh Syadziliyah Wal Qodiriyah Pondok PETA itu merupakan seorang santri yang berasal dari kalangan masyarakat biasa. Dengan kerja keras dan kegigihannyalah dia sampai pada kesusksesan secara pribadi.
“Sebagai seorang santri atau murid Thoriqoh saya sepenuhnya Sam'an wathoatan pada apapun yang diperintahkan oleh guru/Kyai saya,” tegas H. Hendra saat ditemui di kantor LD-PBNU, Jakarta, Senin (01/07)
Termasuk ketika Hendra ditugaskan oleh gurunya KH. Agus Salim yang merupakan Ketua Lembaga Dakwah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) untuk ikut serta dalam pencalonan diri sebagai Anggora Legislatif DPRD Kabupaten Bekasi tahun 2019 melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia tidak banyak berfikir dan langsung mencalonkan diri dengan dasar melaksanakan tugas gurunya itu.
Sabtu, 15 Desember 2018
LEMBAGA DAKWAH PBNU DAN KEMENDIKBUD BERIKAN TRAUMA HEALING KORBAN GEMPA SUMBAWA NTB
![]() |
| Abdus Saleh Radai bersama para guru korban gempa Sumbawa Barat |
SUMBAWA – Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU), bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) melakasanakan Program Psikososial dan Trauma Healing. Kegiatan ini untuk anak-anak korban bencana gempa bumi di 15 Sekolah Dasar Negeri yang tersebar di Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat.
Acara di laksanakan dari tanggal 8-20 Desember 2018. Kegiatan Psikososial dan Trauma Healing ini diisi dengan berbagai kegiatan. Diantaranya psikososial dan Assesment, Edutaiment, Motivasi pendidikan, Motivasi Spiritual, Mitigasii dan rileksasi.
Label:
Game,
Gempa,
Kemendikbud,
LD-PBNU,
Lembaga Dakwah,
NTB,
Sulap,
Sumbawa,
Sumbawa Barat,
Trauma Healing
Selasa, 24 April 2018
SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PETA (PESULUKAN THORIQOT AGUNG) TULUNGAGUNG
Sejarah berdirinya “Al Ma’had As Suluuk Ath Thoriqot Al Kubro” – Pondok Pesulukan Thoriqot Agung atau Pondok PETA berawal dari kiprah Asy Syekh Al Quthub Mustaqim bin Kiai Muhammad Husein. Beliau lahir tahun 1901 Masehi (1319 H.) di Desa Kepatihan, Tulungagung, dari rahim seorang perempuan sholihah bernama Mbah Nyai Mursini asal Desa Kedungwaru, Tulungagung.
Ketika Syekh Mustaqim berusia 12 tahun, oleh ayahandanya Mbah Kiai Husein, dikirim untuk belajar agama kepada Mbah Kiai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung. Ketika itu, Mbah Kiai Zarkasyi termasuk salah seorang ulama Tulungagung yang sering silaturrahim dengan Pendiri Nadhlatul Ulama (NU) Hadlratus Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang.
Dibawah asuhan Mbah Kiai Zarkasyi, Syekh Mustaqim remaja belajar Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Akhlak, Tauhid dan ilmu-ilmu lainnya. Syekh Mustaqim juga khidmat atau ngawulo kepada keluarga Mbah Kiai Zarkasyi. Beliau merawat kebersihan musholla seperti menyapu, mengepel dan menimba.
Sekitar tahun 1916, di usia 15 tahun, Syekh Mustaqim diantar pamannya, Mbah Kiai Muhammad Sholeh bin Kiai Abdul Djalil berguru ke Malangbong, Garut. Di daerah yang kini masuk wilayah Provinsi Jawa Barat itu, Syekh Mustaqim ditempa pendidikan ilmu rohani oleh Syekh Khudlori bin Mbah Kiai Muhammad Hasan yang masih termasuk pamannya.
Dari Syekh Khudlori, Syekh Mustaqim menerima ijazah dan talqin Thoriqot Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dan Thoriqot Naqsyabandiyah. Selain itu, beliau juga menerima ijazah berbagai hizib seperti Hizib Autad (Kafi), Hizib Yamarobil, Hizib Salamah, Hizib Mubarok, Asma’ Baladiyah, Asma’ Jaljalut, dan lain-lain. Di Malangbong, Syekh Mustaqim juga mempelajari berbagai jurus silat ala Sunda.
Senin, 02 April 2018
THORIQOH SEBAGAI PEREKAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA
![]() |
| Romo Sidarto Danusubroto (Wantimpres) dan KH. Ma'ruf Amin (Rois Aam PBNU) Menghadiri Haul KH. Mahfudz Syafi'i |
BEKASI - Ajaran Thoriqoh semakin membumi dalam kehidupan masyarakat, baik masyarakat bawah ataupun kalangan menengah ke atas. Thoriqoh dipandang sebagai perekat sekaligus pemersatu dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuaan Republik Indonesia (NKRI). Ajaran Thoriqoh dalam tasawuf dinilai berjasa besar terhadap spiritualitas di kalangan masyarakat dan intelektual Islam di Indonesia.
“Pengaruh tasawuf telah menjangkau ke seluruh masyarakat dari elit hingga masyarakat bawah. Ajaran tasawuf mempengaruhi pola hidup, moral dan sendi-sendi kehidupan mencakup kesadaran estetik, filsafat, sampai tujuan hidup seseorang.” kata Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Romo Sidarto Danusubroto.
Hal ini disampaikan Sidarto Danusubroto di hadapan 30.000 para santri, yang hadir dalam acara Haul Hadlratussyekh KH. Mahfudz Syafi’i dan Ibu Nyai Hj. Muchsonah Roadhiallahu Anhuma di Ponpes Al-Istighotsah, Sukatani, Bekasi, Jawa Barat.
Langganan:
Postingan (Atom)





