"Jika belum ketemu tentu sangatlah rindu, jangan bersedih hati terus sebut namanya sampai dia datang menghampiri"

Rabu, 24 Juli 2019

KH. MAHFUDZ SYAFI'I GURU AGUNG PEMBAWA THORIQOH PONDOK PETA TULUNGAGUNG

I. KELAHIRAN

Hadlratussyekh Mahfudz Syafi'i Pendiri Ponpes Al-Istighotsah
Di Provinsi Jawa Timur, terdapat sebuah kabupaten yang bernama Jombang yang di kenal dengan kota santri, bahkan ada yang menyatakan bahwa kota Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah jawa karena hampir seluruh pendiri pondok pesantren di jawa pernah berguru di Jombang. Konon, Jombang berasal dari akronim bahasa jawa IJO yang berarti HIJAU dan ABANG yang berarti MERAH yang kemudian di satukan menjadi IJO-ABANG atau JOMBANG.

Jombang dulu adalah wilayah kerajaan Majapahit bagian barat, Jombang kemudian terpisah dari  Mojokerto di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromojoyo yang di tandai dengan tampilnya pejabat pertama mulai tahun 1910 M. sampai 1930 M., yaitu Raden Adipati Ario Suryo Adininigrat.

Pada tahun ketiga setelah inilah bersamaan peristiwa duka kyai besar Jombang yang kitabnya di gunakan seluruh santri indonesia  bahkan para mahasiswa termasuk mahasiswa luar negri, yaitu kyai Muhammad Ma’shum Bin ‘Ali penyusun kitab Ilmu Shorof  Al-Amtsilatut Tashrifiyyah wafat, yakni tepatnya pada hari Kamis, 9 Maret di tahun yang sama 1933 M. Atau 12 Dzul Qo’dah 1351 H. Lahirlah seorang bayi laki-laki putra pertama dari pasangan suami istri Bapak URIP dan Ibu MUNFA’ATUN. (saat itu nama Urip berubah menjadi Syafi’i karena kebiasaan orang dulu yang merubah namanya setelah pulang haji).

Senin, 01 Juli 2019

DARI SANTRI MENUJU DPRD KABUPATEN BEKASI


BEKASI - H. Hendra Cipta Dinata, SE, MM., satu-satunya anggota DPRD (Dewan Pewakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Bekasi terpilih dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tahun 2019. H. Hendra maju di Dapil VI Nomor Urut 4 yg terdiri dari tiga Kecamatan yaitu Kec. Cikarang Utara, Cikarang Timur, dan Karang Bahagia.


Hendra Cipta Dinata atau akrab disapa Haji Hendra adalah seorang pengusaha Muda NU (Nahdlatul Ulama) yang sukses di Kabupaten Bekasi. Dia adalah tokoh muda dengan talenta besar. Pengamal Thoriqoh Syadziliyah Wal Qodiriyah Pondok PETA itu merupakan seorang santri yang berasal dari kalangan masyarakat biasa. Dengan kerja keras dan kegigihannyalah dia sampai pada kesusksesan secara pribadi.

“Sebagai seorang santri atau murid Thoriqoh saya sepenuhnya Sam'an wathoatan pada apapun yang diperintahkan oleh guru/Kyai saya,” tegas H. Hendra saat ditemui di kantor LD-PBNU, Jakarta, Senin (01/07)

Termasuk ketika Hendra ditugaskan oleh gurunya KH. Agus Salim yang merupakan Ketua Lembaga Dakwah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) untuk ikut serta dalam pencalonan diri sebagai Anggora Legislatif DPRD Kabupaten Bekasi tahun 2019 melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia tidak banyak berfikir dan langsung mencalonkan diri dengan dasar melaksanakan tugas gurunya itu.

Sabtu, 15 Desember 2018

LEMBAGA DAKWAH PBNU DAN KEMENDIKBUD BERIKAN TRAUMA HEALING KORBAN GEMPA SUMBAWA NTB

Abdus Saleh Radai bersama para guru korban gempa Sumbawa Barat
SUMBAWA – Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU), bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) melakasanakan Program Psikososial dan Trauma Healing. Kegiatan ini untuk anak-anak korban bencana gempa bumi di 15 Sekolah Dasar Negeri yang tersebar di Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat.

Acara di laksanakan dari tanggal 8-20 Desember 2018. Kegiatan Psikososial dan Trauma Healing ini diisi dengan berbagai kegiatan. Diantaranya psikososial dan Assesment, Edutaiment, Motivasi pendidikan, Motivasi Spiritual, Mitigasii dan rileksasi.

Selasa, 24 April 2018

SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PETA (PESULUKAN THORIQOT AGUNG) TULUNGAGUNG

Sejarah berdirinya “Al Ma’had As Suluuk Ath Thoriqot Al Kubro” – Pondok Pesulukan Thoriqot Agung atau Pondok PETA berawal dari kiprah Asy Syekh Al Quthub Mustaqim bin Kiai Muhammad Husein. Beliau lahir tahun 1901 Masehi (1319 H.) di Desa Kepatihan, Tulungagung, dari rahim seorang perempuan sholihah bernama Mbah Nyai Mursini asal Desa Kedungwaru, Tulungagung.

Ketika Syekh Mustaqim berusia 12 tahun, oleh ayahandanya Mbah Kiai Husein, dikirim untuk belajar agama kepada Mbah Kiai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung. Ketika itu, Mbah Kiai Zarkasyi termasuk salah seorang ulama Tulungagung yang sering silaturrahim dengan Pendiri Nadhlatul Ulama (NU) Hadlratus Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang.

Dibawah asuhan Mbah Kiai Zarkasyi, Syekh Mustaqim remaja belajar Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Akhlak, Tauhid dan ilmu-ilmu lainnya. Syekh Mustaqim juga khidmat atau ngawulo kepada keluarga Mbah Kiai Zarkasyi. Beliau merawat kebersihan musholla seperti menyapu, mengepel dan menimba.

Sekitar tahun 1916, di usia 15 tahun, Syekh Mustaqim diantar pamannya, Mbah Kiai Muhammad Sholeh bin Kiai Abdul Djalil berguru ke Malangbong, Garut. Di daerah yang kini masuk wilayah Provinsi Jawa Barat itu, Syekh Mustaqim ditempa pendidikan ilmu rohani oleh Syekh Khudlori bin Mbah Kiai Muhammad Hasan yang masih termasuk pamannya.

Dari Syekh Khudlori, Syekh Mustaqim menerima ijazah dan talqin Thoriqot Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dan Thoriqot Naqsyabandiyah. Selain itu, beliau juga menerima ijazah berbagai hizib seperti Hizib Autad (Kafi), Hizib Yamarobil, Hizib Salamah, Hizib Mubarok, Asma’ Baladiyah, Asma’ Jaljalut, dan lain-lain. Di Malangbong, Syekh Mustaqim juga mempelajari berbagai jurus silat ala Sunda.

Senin, 02 April 2018

THORIQOH SEBAGAI PEREKAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

Romo Sidarto Danusubroto (Wantimpres) dan KH. Ma'ruf Amin (Rois Aam PBNU) Menghadiri Haul KH. Mahfudz Syafi'i
BEKASI - Ajaran Thoriqoh semakin membumi dalam kehidupan masyarakat, baik masyarakat bawah ataupun kalangan menengah ke atas. Thoriqoh dipandang sebagai perekat sekaligus pemersatu dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuaan Republik Indonesia (NKRI). Ajaran Thoriqoh dalam tasawuf dinilai  berjasa besar terhadap spiritualitas di kalangan masyarakat dan intelektual Islam di Indonesia.

“Pengaruh tasawuf telah menjangkau ke seluruh masyarakat dari elit hingga masyarakat bawah. Ajaran tasawuf mempengaruhi pola hidup, moral dan sendi-sendi kehidupan mencakup kesadaran estetik, filsafat, sampai tujuan hidup seseorang.” kata Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Romo Sidarto Danusubroto.

Hal ini disampaikan Sidarto Danusubroto di hadapan 30.000 para santri, yang hadir dalam acara Haul Hadlratussyekh KH. Mahfudz Syafi’i dan Ibu Nyai Hj. Muchsonah Roadhiallahu Anhuma di Ponpes Al-Istighotsah, Sukatani, Bekasi, Jawa Barat.

Minggu, 24 September 2017

SEJARAH PERJALANAN GURU AGUNG IMAM WALI QUTHUB SYEKH ABU HASAN ‘ALI’ AS-SYADZILI

KH. Agus Salim/Foto by: Abdus Saleh Radai
SEJARAH PERJALANAN GURU AGUNG IMAM WALI QUTHUB
SYEKH ABU HASAN ‘ALI’ AS-SYADZILI

Oleh: Drs. KH. Agus Salim
(Rois Syu'biyah Jam'iyah Ahlith Thoriqoh wal Mu'tabaroh An Nahdliyah dan Ketua Lembaga Dakwah PBNU)

(Disampaikan pada Acara Haul ke- 48 Hadlatusysyekh Syaikhona wa Murobbi Ruhina Mbah KH. Mustqiem bin Husein dan KH. Abdul Djalil Mustaqiem yang ke-13, Pondok PETA Tulungagung 24 September 2017)

Bismillahirraohmanirrohim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Muqoddimah

Hadirin Jemaah, Murid Thoriqoh Syadziliyah yang Allah Muliakan
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadhirat Allah SWT, atas segala nikmat dan pertolongannya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini, dalam rangka mengenang serta mentauladani para kekasih Allah, dalam Acara Haulnya Guru kita:

Hadlratusysyekh, Syaihona wa Murobbi Ruhina
Mbah KH. Mustqiem bin Husein dan KH. Abdul Djalil Mustaqiem yang Ke-13

Dengan hadirnya kita semua di tempat ini semoga Guru kita Syaihona wa Murobbi Ruhina Mbah KH. Mustqiem bin Husein, senantiasa meridhai kita semua sebagai muridnya, dengan ridhanya guru pasti Allah SWT, meridhai kita semua. Marilah acara malam ini kita jadikan spirit, energi,  dan motivasi dalam perjalanan kita menuju dzat yang Maha Suci yaitu (Robbul ‘alamin Allah SWT).

Sholawat dan salam tidak lupa kita mohonkan kehadirat Allah SWT semoga tercurah keharibaan junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya, semoga kita yang hadir di tempat ini khususnya akan mendapatkan Syafaat Baginda Rosululloh di yaumil qiyamah nanti. Amiin Ya Robbal A'lamin.

Senin, 27 April 2015

SAMBUTAN KETUA PANITIA HAUL XII HADHROTUSYSYEKH MAHFUDZ SYAFI’I


Abdus Saleh Radai/Foto by: Abi Agus Salim
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Alhamdulillaahi Wahdahuu laa Syarikalah
Wash-Sholaatu Was-Salaamu ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Ibni ‘Abdillaah
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shohbihii Wa Man Tabi’a Hhudaah
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adhiim

Sub-haanaka Laa ‘Ilma Lanaa Illaa Maa ‘Alamtanaa Innaka Antal-‘Aliimul-Hakiim. Robbish-rohlii Shodrii Wa Yassirlii Amrii Wahlul ‘Uqdatan Min Lisaanii YafqoHhuu Qoulii

Lanjutkan dengan Shalawat Thoriqoh Pondok PETA .......................Amma Ba’duh

Yang Allah muliakan Syaikhona wa Murobbi Ruhina wa Mursyidina Syekh Mustaqim bin Husein beserta Dzurriyahnya
Yang Allah muliakan Mbah KH. Hasbullah Bin Marzuki beserta Dzurriyahnya
Yang Allah muliakan Hadhrotusysyekh Mahfudz Syafi’i beserta Dzurriyahnya
Yang Allah muliakan Hadhrotusysyekh Abdul Jalil Mustaqim
Yang Allah muliakan Mursyiduna Charir Muhammad Sholachuddin Al-Ayyubi
Yang Allah muliakan wabil Khusus Ibu Nyai Suroh sekeluarga Shohibul Bait
Yang Allah muliakan orangtua saya KH. Agus Salim dan KH. Ahmad Jaelani
Yang Allah muliakan seluruh jemaah/murid Hadhrotusysyekh Mahfudz Syafi’i